Kamis, 10 April 2014

Analisis Gaya Bahasa Perbandingan dalam Novel "Ronggeng Dukuh Paruk" Karya Ahmad Tohari



Analisis Gaya Bahasa Perbandingan dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari


Oleh:
Risti Anggraeni      111224067

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma
2013
BAB I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi utama manusia. Bahasa sudah ada sejak jaman dahulu, dan digunakan manusia untuk menyampaikan ide/gagasan, meminta, memberi perintah, dan sebagainya. Dalam perkembangannya kita mengenal adanya bahasa dalam wujud tulisan dan bunyi.  Tulisan baru berkembang setelah adanya bunyi sebagai alat komunikasi. Masyarakat jaman dahulu mengenal kentungan yang dibunyikan dengan irama-irama tertentu untuk berkomunikasi, bahkan masyarakat primitif dahulu menggunakan siulan, dan terompet untuk berkomunikasi. Selanjutnya komunikasi berkembang melalui tulisan. Tulisan dianggap sebagai alat komunikasi yang paling efektif, melalui tulisan kita tidak hanya dapat  berkomunikasi dengan manusia  yang ada disekitar kita saja, melainkan kita dapat berkomunikasi dengan generasi setelah kita, hal ini disebabkan karena tulisan mampu menyimpan ide/gagasan kita, yang dapat dimengerti dan dibaca kembali oleh generasi-generasi setelah kita. Selain itu, indera pengelihatan kita dapat juga digunakan  sebagai alat komunikasi, misalnya lampu  mercusuar yang ada di laut, berguna untuk menginformasikan kepada kita tentang keadaan di laut. Jadi, bahasa merupakan alat komunikasi utama yang  dipergunakan masyarakat dalam kehidupannya.
Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi sebenarnya sudah dikaji dalam filsafat, yang kemudian berkembang dan berdiri sendiri sebagai linguistik. Linguistik merupakan ilmu bahasa. Linguistik sendiri telah membegi bahasa menjadi dua yaitu bahasa primer dan sekunder,  bahasa primer adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa sekunder adalah bahasa tulis. Seringkali dalam bahasa lisan maupun tulis, manusia menggunakan gaya bahasa tertentu untuk menyampaikannya. Didalam bahasa bidang ini dikaji dalam semantik, yaitu ilmu yang mempelajari makna secara lingual tentang suatu bahasa. Makna yang dibahas disini hanya terbatas pada aspek lingualnya saja, sedagkan aspek nonlingual tidak dibahas.
Semantik dalam arti luas mencakup semantik, pragmatik dan sintaksis. Semantik mengkaji makna secara internal/gramatikal, maksudnya adalah dalam semantik hanya mengkaji tentang makna yang ada, yang telah dibawa oleh kata itu di dalam struktur kalimat. Suatu kata mungkin memiliki dua arti, namun keduanya baru bisa terlihat jika sudah  masuk dalam kalimat dengan konteks tertentu, jadi secara gramatikal artinya bisa berbeda. Contohnya kata genting, pada kalimat “Dalam keadaan genting seperti ini dia masih sempat bermesra-mesraan dengan kekasihnya.” dan “Genting rumah itu baru saja diganti dengan yang baru.” Pada kalimat pertama, kata genting mempunyai arti tegang atau berbahaya, sedangkan kata genting pada kalimat  kedua mempunyai arti tutup atap rumah yang terbuat dari tanah liat yang dicetak dan dibakar. Arti kata genting dalam kedua kalimat tersebut baru terlihat dengan jelas ketika konteks dari kalimat yang dimaksud juga sudah jelas. Makna dalam kalimat yang bberdiri sendiri disebut makna leksikal, sedangkan makna yang melekat pada unsur lain disebut dengan makna gramatikal.
Jika semantik lebih menekankan pada pembelajaran makna secara lingual tentang suatu bahasa, maka lain halnya dengan pragmatik. Pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya berupa tindak tutur (speech act). Kajian pragmatik sendiri lebih menekankan pada ilokusi dan  perlokusi daripada lokusi. Ilokusi adalah maksud yang ingin disampaikan penutur, bukan makna yang ingin disampaikan penutur. Perlokusi adalah efek  komunikatif yang terjadi pada pendengar, bagaimana reaksi lawan tutur saat mendengar ujaran, misalnya seorang guru berkata pada muridnya, “Wah, kapurnya habis.”, reaksi seorang murid yang mengerti akan maksud ujaran gurunya tentu akan segera mencari kapur. Reaksi murid inilah yang disebut dengan perlokusi.
Seringkali para sastrawan menggunakan gaya bahasa tertentu, untuk menjelaskan gagasan-gagasan mereka. Gaya bahasa sendiri merupakan salah satu kajian dalam bidang semantik. Figure of Speech atau yang sering disebut dengan gaya bahasa, adalah gaya ungkap seseorang, yaitu bagaimana seseorang mengungkapkan gagasan-gagasan, pemikirannya. Gaya bahasa ada bermacam-macam, diantaranya adalah pertautan, perbandingan, perulangan, dan perumpamaan. Penggunaan gaya bahasa dalam sebuah karya sastra biasanya bertujuan untuk meninggikan serta meningkatkan efek dengan cara memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lain. Dengan penggunaan gaya bahasa yang demikian ini, dapat  menimbulkan nilai rasa atau konotasi tertentu pada pembaca/penikmat sastra (Dale (et al) dalam Tarigan 1986:112).
Gaya bahasa dan semantik saling berkaitan, sebab tanpa mempelajari semantik atau dengan kata lain tanpa pengetahuan tentang makna kata, maka akan sulit untuk memahami gaya bahasa yang beraneka ragam.
Penggunaan gaya bahasa sering dijumpai dalam karya sastra baik novel maupun puisi, tidak terkecuali novel yang berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Dalam makalah ini akan dipaparkan analisis gaya bahasa perumpamaan atau dalam bahasa Inggris disebut simile.
B.    Rumusan Masalah
a.       Apa yang dimaksud dengan gaya bahasa perumpamaan?
b.      Apakah dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk” terdapat penggunaan gaya bahasa perumpamaan?
c.       Bagaimana analisa gaya bahasa perumpamaan dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk”?
C.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu:
a.       Secara Umum
Secara umum tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas terstruktur dari dosen, sebagai syarat ujian akhir semester
b.      Secara Khusus
1.       Mengetahui gaya bahasa perumpamaan
2.       Mengetahui adanya penggunaan gaya bahasa perumpamaan dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk”
3.       Menganalisis penggunaan gaya bahasa perumpamaan dalam novel “Ronggeng  Dukuh Paruk”












BAB II
Pembahasan
A.    Landasan Teori
Gaya bahasa atau biasa disebut dengan ‘figure of speech’ adalah bahasa kias yang biasa digunakan untuk meninggikan atau meningkatkan efek dengan cara membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang lebih umum. Dengan demikian, penggunaan gaya bahasa tertentu dapat merubah serta menimbulkan nilai rasa atau konotasi tertentu.
Gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara, dan menulis untuk meyakinkan ataupun mempengaruhi para penyimak dan pembaca. Jadi melalui penggunaan kata-kata dalam berbicara, dan menulis, seseorang mampu mempengaruhi penyimak dan pembacanya. Mereka dapat memunculkan/menimbulkan suatu efek-efek tertentu melalui bentuk-bentuk retorik yang meereka gunakan. Kata retorik sendiri berasal dari bahasa Yunani  rhetor yang berarti orator atau ahli pidato. Pada masa Yunani kuno, retorik merupakan suatu bagian penting dari suatu pendidikan dan oleh karena itu anaka ragam gaya bahasa sangat penting dan harus dikuasai oleh orang-orang Yunani dan Romawi.
Gaya bahasa sendiri ada 4 macam yaitu perulangan, perbandingan, pertautan dan pertentangan. Selanjutnya dalam gaya bahasa perbandingan dapat dikelompokkan lagi menjadi  perumpamaan, kiasan, penginsanan, sindiran, dan antitesis.
Gaya bahasa perumpamaan adalah padan kata simile dalam bahasa Inggris. Kata simile berasal dari bahasa Latin yang bermakna ‘seperti’. Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakekatnya berlainan dan yang sengaja kita anggap sama. Perbandingan itu secara eksplisit dijelaskan oleh pemakaian kata seperti, ibarat, umpama, bak, laksana, dan sejenisnya. (Tarigan, 1986:118)
B.    Analisis Novel
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada novel yang berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk” ditemukan penggunaan gaya bahasa perbandingan/simile. Ada sekitar 19 kalimat yang menggunakan gaya bahasa simile, yaitu:
1.       Di bagian langit lain, seekor burung pipit sedang berusaha mempertahankan nyawanya. Dia terbang bagai batu lepas dari ketapel sambil menjerit-jerit sejadinya. (hlm. 9)
2.       Biji dadap yang telah tua menggunakan kulit polongnya untuk terbang sebagai baling-baling. Bila angin berembus tampak seperti ratusan kupu terbang menuruti arah angin meninggalkan poho dadap. (hlm. 10)
3.       Setelah didapat, Rasus memanjat. Cepat seperti seekor monyet. (hlm. 12)
4.       Ibarat meniti sebuah titian panjang berbahaya, aku hanya bisa menceritakannya kembali, mengulas serta merekamnya setelah aku sampai di seberang. (hlm.  32)
5.       Arif seperti sepasang  perkutut itu adalah Wirsiter dan Ciplak, istrinya. (hlm. 128)
6.       Latar sejarahnya yang melarat dan udik ibarat beribil. (hlm. 185)
7.       Tetapi Srintil tenang seperti awan putih bergerak di akhir musim kemarau. (hlm. 190)
8.       Matanya berkilat seperti kepik emas hinggap di atas daun. (hlm. 190)
9.       Dia menari seperti mengapung di udara; lincah dan bebas lepas. Kadang seperti burung beranjangan, berdiri di atas satu titik meski sayap dan paruhnya terus bergetar. Kadang seperti bangau yang melayang meniti arus angin. (hlm. 193)
10.   Megap-megap, mulutnya terbuka seperti ikan mujair. (hlm. 194)
11.   Di hadapan mereka Dukuh Paruk kelihatan remang seperti seekor kerbau besar sedang lelap. (hlm. 197)
12.   Kadang suara Srintil penuh  semangat, garakannya cekatan, seperti seorang ibu yang sedang mengajari anaknya berjalan. (hlm. 216)
13.   Padahal sejak semula Rasus mengerti pekerjaan semacam itu ibarat mendongkel sejarah dengan sebatang lidi. (hlm. 265)
14.   Bila ternyata dirinya masih mewujud, pikir Srintil, itu karena aib adalah salah satu faset kehidupan dan dia harus mewujud disana. Seperti tinja yang harus ada di dalam usus manusia. (hlm. 272)
15.   Dukuh Paruk merambat perlahan seperti akar ilalang menyusuri cadas. (hlm. 275)
16.   Dan bila ditiup menentang arus angin, suara puput jadi muncul tenggelam seperti bulan hilang-tampak di balik awan. (hlm. 290)
17.   Srintil bingung seperti munyuk dirubung orang. (hlm. 296)
18.   Namun setiap kali diurungkannya; batu-batu di atas jalan pegunungan itu bergerak seperti mata gergaji besar yang akan menggorok apa saja yang jatuh ke permukaannya. (hlm. 297)
19.   Dari jauh udara di permukaan tanah kelihatan berbinar seperti riak-riak panas pada telaga yang mendidih. (hlm. 309)


Berikut ini akan dipaparkan analisis gaya bahasa perumpamaan dari kalimat-kaliimat tersebut.
Judul novel                         : Ronggeng Dukuh Paruk
Pengarang                          : Ahmad Tohari
Cetakan ketujuh              : November 2011
Tebal                                     : 401 halaman
1.        “Di bagian langit lain, seekor burung pipit sedang berusaha mempertahankan nyawanya. Dia terbang bagai batu lepas dari ketapel sambil menjerit-jerit sejadinya.”
Pada kalimat ini menggunakan kata bagai yang secara eksplisit menjadi kata pembanding, antara ‘dia’ (burung pipit) dengan ‘batu’. ‘dia’ (burung pipit) dalam kalimat ini disamakan dengan ‘batu’ yang lepas dari ketapel dan menjerit-jerit sejadinya. Artinya burung pipit tersebut terbang/melesat dengan kencang, sama dengan saat sebuah batu lepas dari ketapel. Dengan menggunakan gaya bahasa seperti ini, pembaca menjadi dapat membayangkan seberapa cepat burung  pipit itu terbang untuk menyelamatkan diri, dan kita mengetahui kecepatan sebuah batu saat lepas dari ketapel meluncur dengan cepat, seperti itulah burung pipit digambarkan saat terbang mempertahankan nyawanya.
2.        “Biji dadap yang telah tua menggunakan kulit polongnya untuk terbang sebagai baling-baling. Bila angin berembus tampak seperti ratusan kupu terbang menuruti arah angin meninggalkan pohon dadap.”
 Penggunaan kata seperti, menandakan adanya perbandingan antara ‘kulit polong’ dengan ‘ratusan kupu’. Dapat diartikan/dimaknai bahwa ketika kulit polong biji dadap yang sudah tua tertiup angin, maka akan terlihat sama dengan ratusan kupu-kupu yang  sedang terbang. Kita dapat membayangkan ratusan kupu-kupu saat sedang terbang, kemudian menyamakannya dengan kulit polong biji dadap yang terbang berhamburan. Dengan adanya gaya bahasa perumpamaan, disini kita dapat membayangkan kulit polong biji dadap yang sedang terbang, kulit polong itu akan tampak sama dengan ratusan kupu yang sedang terbang.
3.       “Setelah didapat, Rasus memanjat. Cepat seperti seekor monyet.”
 Pada kalimat ini menggunakan gaya bahasa perumpamaan yang ditandai dengan penggunaan kata seperti yang digunakan untuk membandingkan ‘Rasus’ dan ‘seekor monyet’. Ketika seekor monyet sedang memanjat, ia akan sangat cepat, kita dapat menyamakan/membandingkan antara monyet yang sedang memanjat dengan Rasus yang pada saat itu sedang memanjat  pohon. Makna yang dapat disimpulkan dari kalimat  itu adalah kecepatan Rasus saat memanjat, dapat kita bayangkan sama dengan kecepatan monyet saat memanjat.
4.       “Ibarat meniti sebuah titian panjang berbahaya, aku hanya bisa menceritakannya kembali, mengulas serta merekamnya setelah aku sampai di seberang.” (hlm.  32)
Penggunaan kata ibarat disini mengumpamakan sulitnya seseorang dalam mendapatkan sesuatu, sampai-sampai diibaratkan/diumpamakan meniti sebuah titian panjang berbahaya. Kita dapat berkhayal/berpikir tentang sebuah titian/jembatan panjang yang berbahaya, yang mungkin dilalui oleh seseorang, kemudian kita dapat merasakan bagaimana sulitnya meniti jembatan itu. Namun setelah ia berhasil meniti jembattan itu, ia hanya dapat mengulas dan menceritakannya saja. 
5.       “Arif seperti sepasang perkutut itu adalah Wirsiter dan Ciplak, istrinya.” (hlm. 128).
Pada kalimat ini, gaya bahasa perumpamaan juga ditandai dengan adanya kata seperti. Kata seperti disini menjadi kata pembanding antara ‘sepasang perkutut dengan ‘Wirsiter dan Ciplak’. Dengan menggunakan perbandingan seperti ini kita dapat membayangkan bagaimana kearifan sepasang perkutut dan membandingkannya dengan kearifan yang dimiliki Wirsiter dan Ciplak istrinya. Meskipun kita tidak mengenal tokoh Wirsiter dan Ciplak, kita menjadi tahu kearifan yang mereka miliki melalui perumpamaannya dengan sepasang perkutut. Makna dalam kalimat ini adalah sifat arif yang dimiliki oleh ‘Wirsiter dan Ciplak’ sama seperti kearifan sepasang perkutut.
6.       “Latar sejarahnya yang melarat dan udik ibarat beribil.”
Panggunaan kata ibarat dalam kalimat ini, menjadi penanda gaya bahasa perbandingan yaitu perumpamaan atau biasa disebut simile. Kata yang diperbandingkan dalam kalimat ini adalah ‘latar sejarahnya’ (nya disini yang dimaksud adalah Srintil) dan ‘beribil’. Maknanya adalah, masa lalu Srintil yang  pahit, tidak ubahnya beribil/sama dengan beribil.
7.       “Tetapi Srintil tenang seperti awan putih bergerak di akhir musim kemarau.”
 Pada kalimat tersebut, ketenangan yang dimiliki oleh Srintil disamakan/diumpamakan awan putih, yang sedang bergerak di tengah musim kemarau. Hal ini dibuktikan dengan adanya kata seperti yang digunakan untuk membandingkan/mengumpamakannya. Disini kita dapat membayangkan awan putih yang sedang bergerak di akhir musim kemarau, yang tentunya terlihat sangat tenang. Lalu kita dapat menghubungkannya dengan ketenangan Srintil pada saat itu. Jadi ketanangan Srintil diumpamakan awan yang bergerak di akhir musim kemarau. 
8.       “Matanya berkilat seperti kepik emas hinggap di atas daun.”
 Kata ‘matanya’ (-nya disini merupakan kata ganti orang, yaitu Srintil) dan ‘kepik emas’, merupakan suatu kata yang berlainan, tetapi dalam kalimat ini kadua kata tersebut disamakan/diperbandingkan. Perbandingan itu secara eksplisit dijelaskan oleh pemakaian kata seperti, jadi kata disini ‘matanya’ disamakan/diumpamakan ‘kepik emas’. Kita dapat melihat/membayangkan kepik emas saat berada di atas daun tentu terihat mengkilat, hal ini sama seperti mata Srintil yang pada saat itu terlihat menngkilat. Jadi ‘matanya’ (mata Srintil) diperbandingkan dengan kepik emas yang terlihat mengkilat.
9.       “Dia menari seperti mengapung di udara; lincah dan bebas lepas. Kadang seperti burung beranjangan, berdiri di atas satu titik meski sayap dan paruhnya terus bergetar. Kadang seperti bangau yang melayang meniti arus angin.”
Dia yang dimaksud disini adalah Srintil, tokoh utama dalam novel. Disini terjadi tiga kali pengumpamaan menggunakan kata pembanding seperti, dan kata yang diperbandingkan adalah kata ‘menari’ dengan ‘mengapung di udara’, ‘burung beranjangan’, dan ‘bangau’. Maksud dari kalimat ini adalah cara Srintil menari yang lincah dan bebas, dan indah, seperti mengapung diudara, dan sama seperti burung beranjangan serta bangau. Melalui gaya bahasa perumpamaan yang digunakan penulis kita dapat membayangkan Srintil sedang menari dengan lincah seakan-akan dia menari diatas udara, dan seperti bangau yang  melayang meniti agin.
10.   “Megap-megap, mulutnya terbuka seperti ikan mujair.”
 Kalimat ini menggunakan gaya bahasa perbandingan, yaitu perumpamaan, dibuktikan dengan penggunaan kata seperti yang secara eksplisit dipakai untuk membandingkan dua kata yaitu  ‘mulutnya’ dan ‘ikan mujair’. Maksud dari kalimat ini adalah menyamakan ‘mulutnya’ (-nya yang dimaksud disini adalah kata ganti orang yaitu Srintil) dengan mulut ikan mujair, karena seringkali mulut ikan mujair terlihat megap-megap, sama seperti ‘mulutnya’ (mulut Srintil).
11.   “Di hadapan mereka Dukuh Paruk kelihatan remang seperti seekor kerbau besar sedang lelap.”
Penggunaan kata seperti menunjukkan perbandiiingan antara dua hal yaitu ‘Dukuh Paruk’ dan ‘seekor kerbau besar sedang lelap’. Kita dapat membayangkan kerbau yang sedangg tidur, tentu hanya terlihatseperti bongkahan besar, hitam. Melalui penggunaan gaya bahasa perumpamaan dalam kalimat ini, kita dapat membayangkan keadaan Dukuh Paruk saat itu, yatu sama seperti kerbau yang  sedang tidur.
12.   “Kadang suara Srintil penuh  semangat, garakannya cekatan, seperti seorang ibu yang sedang mengajari anaknya berjalan.”
 Perbandingan dua hal disini adalah antara ‘suara Srintil penuh semangat, gerakannya cekatan’ dengan ‘seorang ibu yang sedang mengajari anaknya berjalan’, hal ini dapat ditandai pengan penggunaan kata seperti diantara dua hal tersebut. Maksud dari kalimat ini adalah menggambarkan suara dan gerakan srintil yang penuh semangat  dan cekatan, dan menyamakannya dengan seorang ibu yangsedang mengajari anaknya berjalan.
13.   “Padahal sejak semula Rasus mengerti pekerjaan semacam itu ibarat mendongkel sejarah dengan sebatang lidi.”
 Penggunaan kata ibarat menjadi pembanding antara ‘pekerjaan semacam itu’ (mencari Srintil yang menjadi tahanan pada masa PKI) dengan ‘mendongkel sejarah dengan sebatang lidi’. Artinya disini adalah melakukan sebuah pekerjaan yang tentu tidak mudah, karena pekerjaan tersebut berkaitan dengan zaman/sejarah. Mengibaratkan sebuah lidi yang tentunya tidak mempunyai kekuatan yang besar, untuk melakukan suatu hal yang sulit/berat.
14.   “Bila ternyata dirinya masih mewujud, pikir Srintil, itu karena aib adalah salah satu faset kehidupan dan dia harus mewujud disana. Seperti tinja yang harus ada di dalam usus manusia.”
 Kata seperti secara eksplisit menunjukkan perumpamaan/perbandingan antara ‘aib adalah salah satu faset kehidupan dan dia harus mewujud disana’ dengan ‘tinja yang harus ada di dalam usus manusia’. Artinya adalah bahawa aib merupakan salah satu bagian dari kehidupan manusia dan disamakan dengan posisi tinja yang juga merupakan bagian yang ada dalam usus manusia. Jadi disini yang sebenarnya diumpamakan/dibandingkan adalah ‘aib’ dan ‘tinja’ dimana posisi keduanya merupakan bagian yang harus ada.
15.   “Dukuh Paruk merambat perlahan seperti akar ilalang menyusuri cadas.”
 Dalam kalimat ini yang dimaksud adalah kehidupan di Dukuh Paruk yang secara perlahan mulai bangkit. Hal tersebut diumpamakan/disamakan dengan akar ilalang yang tumbuh menyusuri cadas. Dua hal yang diperbandingkan dalam kalimat itu adalah ‘Dukuh Paruk’ (dalam hal ini yang dimaksud adalah kehidupannya) dengan ‘akar ilalang menyusuri cadas’. Kita mengetahui bahwa akar ilalang yang menyusuri cadas akan terus bergerak, disini disamakan dengan kehidupan Dukuh Paruk, yang dapat kiita bayangkan tumbuh/berkembang sama seperti akar ilalang tersebut.
16.   “Dan bila ditiup menentang arus angin, suara puput jadi muncul tenggelam seperti bulan hilang-tampak di balik awan.”
 Kalimat ini mengandung gaya bahasa perumpamaan yang ditunjukkan dengan adanya kata seperti sebagai pembanding.  Dua hal yang diperbandingkan dalam kalimat ini adalah ‘suara puput’ dengan ‘bulan hilang-tampak dibalik awan’. Artinya, suara puput (alat tiup terbuat dari batang padi atau bambu pendek, adakalanya ditambah dengan daun kelapa) yang  muncul tenggelam, terkadang terdengar terkadang  tidak, disamakan dengan bulan yang juga terkadang hilang dan terkadang tampak karena tertutup awan. Kita mengetahui bulan saat tertutup awan dan terkadang terlihat, seperti itulah gambaran suara puput yang terdengar.
17.   “Srintil bingung seperti munyuk dirubung orang.”
 Kalimat ini membandingkan manusia dengan binatang, hal ini ditandai dengan adanya kata seperti untuk membandingkan dua hal yaitu ‘Srintil’ dan ‘munyuk’. Disini kebingungan Srintil disamakan/diumpamakan seperti munyuk (monyet) yang  sedang dikelilingi oleh banyak orang. Seekor monyet/ munyuk saat berada ditengah kerumunan banyak orang akan terlihat bingung, dan kita dapat membayangkan kebingungan seekor monyet/munyuk tersebut, kamudian menghubungkannya dengan Srintil. Dengan demikian kita dapat membayangkan keadaan Srintil/kebingungan yang sedang dialami Srintil.
18.   “Namun setiap kali diurungkannya; batu-batu di atas jalan pegunungan itu bergerak seperti mata gergaji besar yang akan menggorok apa saja yang jatuh ke permukaannya.”
 Kalimat ini membandingkan ‘batu-batu di atas jalan’ dengan ‘mata gergaji besar’. Perbandingan itu ditandai dengan adanya kata seperti yang menjadi pembanding dalam dua hal tersebut. Kita dapat membayangkan bebatuan di atas jalan pegunungan yang tidak rata serta banyak batu yang tertanam, kemudian kita juga dapat membayangkan mata gergaji yang ada pada gergaji. Kedua hal tersebut sangat  mirip, karena sama-sama memiliki permukaan yang tidak rata. Jadi disini kita dapat membayangkan bagaimana keadaan jalan itu, yang  memiliki permukaan  seperti mata gergaji yang besar. Penggunaan gaya bahasa perumpamaan disini membantu pembacauntuk dapat memahami keadaan yang sesungguhnya di khayalkan oleh penulis.
19.   “Dari jauh udara di permukaan tanah kelihatan berbinar seperti riak-riak panas pada telaga yang mendidih.”
Kalimat ini menggunakan gaya bahasa perumpamaan, dan membandingkan dua hal yaitu ‘udara di permukaan tanah’ dengan ‘riak-riak panas pada telaga mendidih’. Dua perbandingan ini ditandai dengan adanya kata seperti dalam kalimat tersebut. Kita dapat membayangkan riak-riak panas, meskipun bukan pada sebuah telaga yang mendidih, yang bergelombang pada sebuah air yang panas, kamudian kita dapat menghubugkannya dengan permukaan udara tanah yang berbinar dan membentuk gelombang/beriak sama seperti yang ada pada air mendidih.  Jadi disini kita dapatt membayangkan panasnya udara, sampai-sampai permukaan udara yang berada di atas tanah terlihat berbinar menyerupai riak pada air/telaga yang mendidih








BAB III
Penutup
Simpulan
Gaya bahasa atau figure of speech adalah bahasa kias yang biasa digunakan untuk meninggikan atau meningkatkan efek dengan cara membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang lebih umum.
Melalui penggunaan gaya bahasa dalam sebuah karya sasatra, maka akan menambah nilai rasa atau konotasi tertentu. Gaya bahasa ada bermacam-macam salah satunya adalah gaya bahasa perbandingan yang didalamnya mencakup perumpamaan. Gaya bahasa perumpamaan adalah gaya bahasa yang membandingkan dua hal yang berbeda, nemun dianggap sama.
Pengunaan gaya bahasa perumpamaan, yang termasuk dalam gaya bahasa perbandingan ditemukan dalam novel “Ronggeng  Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Ditemukan sekitar 19 kalimat yang  menggunakan gaya bahasa perumpamaan.
Perbandingan dalam novel  “Ronggeng Dukuh Paruk” sering dijelaskan secara eksplisit dengan penggunaan kata seperti, sedangkan kata ibarat hanya digunakan sebanyak 1 kali, dan tidak ditemukan penggunaan kata bak, umpama, dan lakasana..
Perbandingan yang paling banyak dilakukan dalam novel ini adalah mambandingkan antara manusia dengan binatang. Terdapat sekitar 6 kalimat yang membandingkan manusia dengan binatang, keenam kalimat tersebut menggambarkan sifat-sifat manusia yang sama dengan binatang.
Melalui penggunaan gaya bahasa seperti ini, pembaca dapat memahami kalimat-kalimat yang ada dalam novel. Misalnya dalam kalimat “Megap-megap, mulutnya terbuka seperti ikan mujair.” Kalimat ini menggunakan gaya bahasa perbandingan, yaitu perumpamaan, dibuktikan dengan penggunaan kata seperti yang secara eksplisit dipakai untuk membandingkan dua kata yaitu  ‘mulutnya’ dan ‘ikan mujair’. Maksud dari kalimat ini adalah menyamakan ‘mulutnya’ (-nya yang dimaksud disini adalah kata ganti orang yaitu Srintil) dengan mulut ikan mujair, karena seringkali mulut ikan mujair terlihat megap-megap, sama seperti ‘mulutnya’ (mulut Srintil). Meskipun kita tidak melihat secara langsung keadaan tokoh pada waktu itu, namun dengan perumpamaannya yang disamakan dengan ikan mujair pembaca menjadi paham dan dapat membayangkan keadaan tokoh.
Gaya bahasa perumpamaan tidak selalu diterapkan pada manusia, tetapi juga dapat diterapkan untuk menggambarkan sebuah keadaan, misalnya dalam novel ini terdapat dalam kalimat “Dukuh Paruk merambat perlahan seperti akar ilalang menyusuri cadas.” Dalam kalimat ini yang dimaksud adalah kehidupan di Dukuh Paruk yang secara perlahan mulai bangkit. Hal tersebut diumpamakan/disamakan dengan akar ilalang yang tumbuh menyusuri cadas. Dua hal yang diperbandingkan dalam kalimat itu adalah ‘Dukuh Paruk’ (dalam hal ini yang dimaksud adalah kehidupannya) dengan ‘akar ilalang menyusuri cadas’. Kita mengetahui bahwa akar ilalang yang menyusuri cadas akan terus bergerak, disini disamakan dengan kehidupan Dukuh Paruk, yang dapat kiita bayangkan tumbuh/berkembang sama seperti akar ilalang tersebut. Dengan perumpamaan seperti ini, meskipun kita (pembaca) tidak melihat/merasakan sendiri keadaan yang ada di Dukuh Paruk, pembaca dapat mengerti/memiliki pikiran/konotasi yang sama seperti yang digambarkan penulis, yaitu kehidupan yang tumbuh dan disamakan dengan tumbuhnya akar ilalang pada cadas.
Novel ini juga membandingkan dua benda mati, yaitu batu dengan gergaji, seperti yang terlihat dalam kalimat “Namun setiap kali diurungkannya; batu-batu di atas jalan pegunungan itu bergerak seperti mata gergaji besar yang akan menggorok apa saja yang jatuh ke permukaannya.” Kalimat ini membandingkan ‘batu-batu di atas jalan’ dengan ‘mata gergaji besar’. Perbandingan itu ditandai dengan adanya kata seperti yang menjadi pembanding dalam dua hal tersebut. Kita dapat membayangkan bebatuan di atas jalan pegunungan yang tidak rata serta banyak batu yang tertanam, kemudian kita juga dapat membayangkan mata gergaji yang ada pada gergaji. Kedua hal tersebut sangat  mirip, karena sama-sama memiliki permukaan yang tidak rata. Jadi disini kita dapat membayangkan bagaimana keadaan jalan itu, yang  memiliki permukaan  seperti mata gergaji yang besar. Penggunaan gaya bahasa perumpamaan disini membantu pembaca untuk dapat memahami keadaan yang sesungguhnya di khayalkan oleh penulis. Pembaca akan mempunyai konotasi antara batu dengan gergaji.
Penggunaan gaya bahasa sangat bermanfaat untuk menimbulkan konotasi pada pembaca sehingga pembaca dapat membayangkan keadaan/situasi seperti yang dikehendaki pengarang. Dengan demikian penggunaan gaya bahasa perumpamaan yang diterapkan dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk” ini dapat menimbulkan nilai rasa tersendiri bagi pembaca.





Daftar Rujukan
Tohari, Ahmad. 2011. Ronggeg Dukuh Paruk. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas X SMA Materi: Eksposisi



Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


Satuan Pendidikan      : SMA
Kelas/Semester            : X/1
Mata Pelajaran            : Bahasa Indonesia
Topik                           : Budaya Berpendapat di Forum Ekonomi dan Politik
Jumlah Pertemuan       : 3 Pertemuan
A.    Kompetensi Inti
1.      Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2.      Menghayati dan mengamalkan prilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3.      Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kemanusiaan, kebangsaan, kenegaran, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan memintanya untuk memecahkan masalah.
4.      Mengolah, menalar dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.
B.     Kompetensi Dasar
2.5 Menunjukkan perilaku jujur, peduli, santun, dan tanggung jawab dalam penggunaan bahasa Indonesia untuk memaparkan pendapat mengenai konflik sosial, politik, ekonomi, dan kebijakan publik
3.4 Mengevaluasi teks anekdot, eksposisi, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, dan negosiasi berdasarkan kaidah-kaidah teks baik melalui lisan maupun tulisan
4.3 Menyunting teks anekdot, eksposisi, laporan hasil observasi, prosedur kompleks, dan negosiasi sesuai dengan struktur dan kaidah teks baik secara lisan maupun tulisan


C.     Indikator
·         Siswa mampu menunjukkan perilaku jujur, peduli, santun, dan tanggung jawab dalam penggunaan bahasa Indonesia untuk memaparkan pendapat mengenai konflik sosial, politik, ekonomi, dan kebijakan publik
·         Siswa mampu mengevaluasi teks eksposisi berdasarkan kaidah-kaidah teks baik melalui lisan maupun tulisan
·         Siswa mampu menjelaskan hasil evaluasinya secara lisan
·         Siswa mampu menyunting teks eksposisi sesuai dengan struktur dan kaidah teks baik secara lisan maupun tulisan
·         Memahami cara menyunting teks eksposisi secara lisan maupun tulisan dengan menggunakan bahasa yang runtut dan jelas
·         Siswa mampu menggunakan struktur, ejaan, diksi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar
·         Menilai pekerjaan teman

D.    Tujuan Pembelajaran
·         Selama dan setelah proses pembelajaran siswa memiliki perilaku jujur, peduli, santun, dan tanggung jawab dalam penggunaan bahasa Indonesia untuk memaparkan pendapat mengenai konflik sosial, politik, ekonomi, dan kebijakan publik
·         Selama proses pembelajaran siswa mampu mengevaluasi teks eksposisi berdasarkan isi, struktur, kaidah, karakteristik, jenis atau ragam, bentuk, bahasa dalam teks secara lisan atau tulisan
·         Setelah mengevaluasi teks eksposisi berdasarkan isi, struktur, kaidah, karakteristik, jenis atau ragam, bentuk, bahasa dalam teks secara lisan atau tulisan siswa diharapkan mampu menyunting teks negosiasi yang telah dievaluasinya


E.     Sumber Belajar dan Media
·         Maryanto; Hayati, Nur;  Suzanti, Elvi; Muslikah, Anik. 2013. Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik. Jakarta: Politeknik Negeri Media Kreatif
Media Pembelajaran
·         LCD dan Komputer
·         Teks negosiasi
·         Video negosiasi

F.      Alokasi Waktu
3x45 menit
G.    Materi Pokok
·         Teks eksposisi
·         Menyunting teks eksposisi
H.    Pendekatan dan Metode Pembelajaran
·         Scientiifict learning

I.       Langkah-langkah Pembelajaran
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
I.                   Pendahuluan
Orientasi


Apersepsi










Motivasi

1.      Guru memberikan salam kepada siswa

2.      Guru memberikan informasi  tentang keterkaitan pembelajaran yang akan dilaksanakan dengan pembelajaran sebelumnya
3.      (buat kegiatan siswa)

4.      Guru memberikan kompetensi, materi dan langkah pembelajaran yang akan dilakukan
5.      Guru memberikan pre-tes kepada siswa terkait struktur teks eksposisi

6.    Siswa menyaksikan tayangan video terkait teks eksposisi

II.                Kegiatan Inti
Mengamati








Menanya






Menalar






Mencoba



Mengomunikasikan


7.      Siswa membaca dan mengamati teks eksposisi dengan judul “Pemimpin Sosial dan Politik Tidak Harus Mempunyai Pendidikan Formal yang Tinggi”
8.      Berdiskusi dalam kelompok kecil yang terdiridari 3-4 orang untuk mengevaluasi teks eksposisi yang telah diterimanya
9.      Siswa menuliskan hasil evaluasinya beserta alasannya
10.  Siswa mempresentasikan hasil diskusinya didepan kelas
11.  Siswa menyunting teks eksposisi yang  telah dievaluasinya

12.  Siswa membacakan hasil pekerjaannya didepa kelas

III.             Penutup
13.  Guru memberikan penegasan materi
14.  Guru mengajak siswa merefleksikan materi yang telah didapatkan
15.  Siswa dan guru merencanakan tindak lanjut  untuk kegiatan pembelajaran selanjutnya yaitu mencari contoh-contoh teks eksposisi dari berbagai sumber





J.       Penilaian
Indikator Pencapaian Kopetensi
Teknik Penilaian
Bentuk Penilaian
Instrumen
Menunjukkan perilaku jujur, peduli, santun, dan tanggung jawab dalam penggunaan bahasa Indonesia untuk memaparkan pendapat mengenai konflik sosial, politik, ekonomi, dan kebijakan publik
Tes tertulis
Isian
Jelaskan struktur teks negosiasi dan !
Mengevaluasi teks eksposisi berdasarkan kaidah-kaidah teks baik melalui lisan maupun tulisan
Tes
Isian
Sebutkan kaidah teks negosiasi!
Menjelaskan hasil evaluasinya secara lisan
Tes
Isian
Jelaskan, apa saja yang membedakan dari  teks negosiasi
Menyunting teks eksposisi sesuai dengan struktur dan kaidah teks baik secara lisan maupun tulisan
Kinerja
Keterampilan tertulis
Buatlah teks negosiasi......

K.    Penilaian Hasil