Kamis, 07 Maret 2013

Evaluasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia


Evaluasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
Langkah-langkah Penyusunan Soal dan JawabanTes Objektif,
Tes Esai dan Tes Kinerja








Oleh:
Sofylia Melati                     111224066
Risti Anggraeni                  111224067
Wahyu Chrisna Rinadi    111224073
Wahyu Nurasih                 111224078

Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma
2013

Bab I
Pendahuluan
A.     Latar Belakang
            Pendidikan adalah sarana utama untuk mencerdaskan anak bangsa. Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang bertujuan  meningkatkan taraf hidup bangsa karena pendidikan memberikan bekal pengetahuan bagi generasi muda untuk menghadapi persingan globalisasi dunia kerja. Mengingat begitu pentingnya pendidikan, makaperlu diadakan evaluasi serta perbaikan dalam proses pembelajaran tidak terkecuali dalam penyusunan tes yang digunakan untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap pemahaman suatu materi tertentu.
            Dalam penyusunan tes tersebut guru harus memperhatikan beberapa aturan atau kaidah-kaidah agar tes tersebut tepat sasaran sesuai dengan tujuan pembelajaran. Selain itu, dalam penyusunan kunci jawaban juga tidak boleh dilakukan secarasmbarangan dan harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana langkah-langkah penyusunan tes objektif?
2.      Bagaimana langkah atau cara menyusun kunci jawaban tes objektif?
3.      Bagaimana langkah-langkah penyusunan tes esai dan kinerja?
4.      Bagaimana penyusunan pedoman penilaian tes esai dan tes kinerja?

C.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui langkah-langkah penyusunan tes objektif.
2.      Untuk mengetahui langkah atau cara menyusun kunci jawaban tes objektif.
3.      Untuk mengetahui langkah-langkah penyusunan tes esai dan kinerja
4.      Untuk mengetahui penyusunan pedoman penilaian tes esai dan tes kinerja.






Bab II
Pembahasan
I.                   Memahami Proses Penyusunan Tes Objektif Pembelajaran Bahasa Indonesia

A.     Tes Objektif (Objective Test)
Tes objektif adalah tes yang penskorannya dapat dilakukan dengan tingkat objektivitas yang tinggi. Skor yang dihasilkan pada akhir penskoran terhadap pekerjaan seorang peserta tes objektifpada dasarnya tidak berbeda dan akan sama seandainya penskoran dilakukan oleh dua orang atau lebih korektor, atau oleh seorang korektor yang sama yang melakukan penskoran dua kali atau lebih pada waktu berlainan. Hasil penskoran sama dan tidak berbeda itu bahkan dapat dilakukan tanpa menggunakan tenaga dan pikiran manusia melainkan cukup dengan mesin scanner, tentu saja dengan meggunakan lembar jawaban yang disediakan dan dirancang secara khusus untuk maksud itu. Atas dasar hasil penskoran yang tetap sama (objektif) itu tes jenis ini dikenal sebagai tes objektif. Penskoran objektif semacam itu dimungkinkan karena tersedia dan digunakannya kunci jawaban berisi daftar jawaban benar sebagai pegangan penskoran. Dalam bentuknya yang amat sederhana kunci jawaban itu sekedar memuat nomor butir soal berikut pilihan yang benar. Tes objektif dapat dituangkan dalam bentuk a) tes menjodohkan, b) tes benar salah,dan c) tes pilihan ganda.

1.      Tes Menjodohkan (Matching Test)
Tes menjodohkan memberi tugas kepada peserta tes untuk menjodohkan atau mencocokan (matching) dua bagian tes yang, dari segi isi atau arti, merupakan dua bagian yang secara nalar saling berkaitan. Tes menjodohkan tersusun dalam bentuk dua deretan butir tes. Deretan pertama terdiri dari pertanyaan, pernyataan, atau bagian awal dari suatu pernyataan, atau sekedar kata-kata lepas. Masing-masing pertanyaan atau bagian pernyataan itu diberi nomor, misalnya, (1) sampai (10). Deretan kedua, yang biasanya terletak disebelah kanan deretan pertama, terdiri dari jawaban atas pertanyaan, atau bagian akhir suatu pernyataan. Masing-masing bagian dari deretan kedua itu diberi tanda yang berbeda dengan yang digunakan pada deretan pertama, misalnya dengan huruf (a) sampai dengan huruf (j). Tentu saja urutan bagian pertama dan urutan bagian kedua itu disusun sedemikian rupa sehingga tidak merupakan jawaban atau kelanjuatan, atau bukan dimaksudkan agar peserta tes berpikir sebelum dapat menetapkan satu butir di deretan kiri, misalnya nomor urut (2), cocok (match) dengan satu butir tertentu dideretan kanan, misal nomor urut (d). Dalam hal ini jawaban yang harus dituliskan secara singkat adalah 2-d. Contoh tes kosa kata bentuk tes mencocokan adalah sebagai berikut:
Ø  Kelas XI
·         SK 7 Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca buku kumpulan cerita pendek (cerpen).
·         KD 7.1 Menemukan tema, latar, penokohan pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan cerpen.
NO
SOAL
JAWAB
1
Salah satu jenis prosafiksi yang menceritakan tentang suatu alur cerita yang memiliki tokoh cerita dan situasi cerita terbatas.
a.       Dongeng
2
Tokoh berwatak baik, biasanya menjadi tokoh utama.
b.      Cerpen
3
Tokoh berwatak jahat.
c.       Tritagonis
4
Tokoh pelerai/pendamai.
d.      Antagonis
5
Lukisan tempat, hubungan, waktu, lingkungan social, tempat terjadinya peristiwa.
e.       Konflik
6
Rangkaian peristiwa yang membentuk cerita.
f.       Protagonis

g.       Alur
h.      Latar
i.        Tempat

*Jawaban : 1-b, 2-f, 3-d, 4-c, 5-          h, 6-g  
Kadang-kadang urutan deretan ke-2 berisi satu atau dua pilihan lebih banyak daripada deretan ke-1. Hal ini dilakukan untuk membuat peserta tes berpikir lebih bersungguh-sungguh terutama apabila tinggan tersisa satu butir tes yang belum terjawab. Dengan jumlah butir yang tepat sama pada kedua deretan, peserta tes tidak lagi berpikir ktika di masing-masing deretan butir tinggal tersisa satu. Butir-butir terakhir itu tinggal dicocokan saja terutama apabila jawaban terhadap butir-butir lain sudah dianggap tepat. Selain tes kosa kata tes mencocokan ini dalam tes bahasa ini dapat pula diterapkan pada tes kemampuan atau unsur bahasa lain termasuk berbagai aspek membaca pemahaman dan tata bahasa (Djiwandono, M Soenardi. 2008. Tes Bahasa : Pegangan bagi pengajar bahasa)
Ø  Beberapa petunjuk dalam menyusun item tes bentuk menjodohkan
a.       Petunjuk hendaknya jelas, singkat dan tegas.
b.      Hendaknya kumpulan soal diletakkan di sebelah kiri, sedangkan jawaban di sebelah kanan.
c.       Jumlah alternatif jawaban hendaknya lebih banyak daripada jumlah soal.
d.      Sususnan item-item dan alternatif jawaban dengan sistematika tertentu.
e.       Hendaknya seluruh kelompok soal dan jawaban hanya terdapat pada satu halaman.
f.       Gunakan kalimat yang singkat dan langsung terarah pada pokok persoalan.
(dalam Zainal Arifin)



2.      Tes Benar-Salah (True-False Test)
Tes benar-salah terdiri dari sejumlah butir tes, masing-masing berupa pernyataan. Beberapa diantara pernyataan itu benar dalam arti sesuai dengan yang seharusnya, beberapa yang lain berupa pernyataan yang salah , yaitu tidak sesuai atau bertentangan dengan yang seharusnya. Tugas peserta tes adalah untuk membaca, memerhatikan, dan menilai kebenarannya seesuai dengan penguasaan terhadap isi bidang kajian yang menjadi sasaran tes.
Apabila peserta tes menganggap bahwa suatu pernyataan itu salah, maka anggapannya itu dinyatakan dengan cara tetentu, misalnya menuliskan huruf S (salah) pada tempat tertentu yang disediakan, melingkari huruf  S yang disediakan, dan lain-lain. Sebaliknya apabila suatu pernyataan dianggapnya benar, maka dituliskannya huruf B (benar)
Ø  Beberapa petunjuk praktis dalam menyusun item bentuk B-S
a.       Jumlah item yang benar dan yang salah hendaknya sama.
b.      Berilah petunjuk cara mengerjakan soal yang jelas dan memakai kalimat yang sederhana.
c.       Hindarkan pernyataan yang terlalu umum dan kompleks.
d.      Hindarkan penggunaan kata yang dapat memberi petunjuk tentang jawaban yang dikehendaki, misalnya: biasanya, umumnya, selalu.




Contoh soal Benar Salah:
Ø  Kelas XI SMA
·         SK 3 Memahami ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca memindai.
KD 3.1 Membedakan antara fakta dan opini dalam teks iklan di surat kabar melalui kegiatan membaca intensif.
·         SK 4  Mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris, resensi, dan karangan.
KD 4.1 Menulis iklan baris dengan bahasa yang singkat, padat, dan jelas.
KD 4.2 Meresensi buku pengetahuan.
·         SK 7 Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca buku kumpulan cerita pendek (Cerpen).
KD 7.1 Menemukan tema, latar, penokohan pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan cerpen.
·         SK 13 Memahami wacana sastra melalui kegiatan mendengarkan pembacaan kutipan/ sinopsis novel.
KD 13.1 Menerangkan sifat-sifat tokoh dari kutipan novel yang dibacakan.
·         SK 14 Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan drama.
KD 14.1 Membahas pementasan drama yang ditulis siswa.

NO
SOAL
B
S
1
Paragraf deduktifadalahparagrafdengan kalimat utama di awal, kemudian diikuti oleh kalimat penjelas.
B
S
2
Protagonisadalahtokoh yang perwatakanyajahat.
B
S
3
Paragrafinduktifadalahparagrafdengan kalimat utama terletak di akhir paragraf, setelah kalimat-kalimat penjelas.
B
S
4
Proposal merupakan rencanayang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja.
B
S
5
Dilihatdariperanya, tokohdibedakanmenjadiduabagianyaknitokohutamadantokohsentral.
B
S
6
Unsurekstrinsikhikayatmeliputitema, amanat, tokoh, perwatakan, alur, latar, dansudutpandangcerita yang menjadibagianlangsungdariisicerita.
B
S
7
Aktingatauperagaanadalahpenampilansuatuperan yang menyebabkanpenontondapattersangkutpadailusi yang dibangunolehaktor.
B
S

Karena tes benar-salah menyediakan dua pilihan untuk setiap butir tesnya, maka secara hitungan matematik peluang untuk menjawab benar adalah 1 dari 2, atau 50%. Itu merupakan presentasi kemungkinan benar benar yang cukup tinggi. Dalam perhitungan matematis hal itu dapat berarti bahwa seandainya seorang peserta tes menjawab tes benar-salah itu secara membabi buta dengan sekedar menebak tanpa berpikir sekalipun, secara teoretis peserta yang bersangkutan dapat memperoleh nilai setengah dari seluruh butir tes dan itu merupakan tingkat presentasi yang dapat dirasakan terlalu tinggi dan termasuk salah satu kelemahan dari jenis tes benar-salah. Oleh sebab itu, pengguna tes itu perlu dilakukan dengan berbagai upaya untuk memperkcil kelemahan itu.
Upaya untuk memperkecil kelemahan itu dapat dilakukan dengan beberapa cara. Sebagai tes pemahaman, baik wacana lisan (menyimak) maupun tulisan (membaca pemahaman) pernyataan itu perlu dipilih dan dirumuskan sedemikian rupa sehingga benar-benar merupakan pernyataan yang kebenarannya hanya dapat dipastikan berdasarkan pemahaman peserta tes terhadap wacana yang telah didengarkan atau dibaca. Tidak semestinya bahwa suatu pernyataan dapt dinilai kebenarannya semata-mata berdasarkan logika atau pngetahuan umum yang diketahui tanpa harus memahami wacana yang telah dibaca atau diperdengarkan. Pernyataan yang isi dan rumusnya tepat sama dengan apa yang secara eksplisit digunakan dalam wacana, juga bukan merupakan butir tes benar-salah yang baik, karena mudah dikenali. Jawaban terhadap butir tes semacam itu seolah-olah tersedia di wacana yang ada sehinggan untuk menjawabnya peserta tes tidak perlu berpikir. Demikian pula halnya dengan penyusunan buti-butir tes. Butir-butir tes sebaiknya tidak disusun sedemikian rupa sehingga menampakkan pola yang ajeg sehingga pilihan jawaban yang benar tidak didasarkan atas pemahaman atas isinya, melainkan sekedar melihat pola peletakan butir-butir tesnya. Pola semacam itu, misalnya berupa meletakkan semua pernyataan benar pada seluruh setengah pertama tes dengan seluruh setengah tes lainnya berupa pernyataan salah. Atau pernyataan benar dan salah itu diletakkan secara berselang-seling secara ajeg sehingga urutannya menjadi salah-benar-salah-benar dan seterusnya. Semua itu merupakan cara menyusun butir tes benar-salah yang perlu dihindari agar pilihan terhadap jawaban benar-benar didasarkan atas pemahaman, dan bukan sekedar dengan tebak-tebakan tanpa didasarkan atas pemahaman.
Memang dalam tes benar-salah cara menjawab tidak semata-mata atas dasar tebakan semacam itu tidak dapat dihindarkan. Yang dapat dilakukan adalah memperkecil peluang untuk menjawab hanya sekedar dengan cara menebak, terutama dengan cara memperbanyak pilihan tidak hanya dua melainkan tiga, empat atau lebih. Bila hal itu dilakukan, pada hakikatnya tes benar-salah diubah menjadi tes piihan ganda.
·         Saran penyusunan Tes Benar Salah
a)      Pernyataan jangan terlalu kompleks dengan berisi beberapa konsep sekaligus yang mungkin kurang berkaitan. Pernyataan yang kompleks bisa saja dipergunakan asal kaitan antara konsep-konsep yang adda jelas dan mudah diikuti.
b)      Pernyataan hendaknya tidak memergunakan kata-kata tertentu yang memungkinkan untuk  mudah ditebak atau yang dapat menimbulkan perdebatan. Misalnya, kata-kata seperti semua, selalu, tidak pernah, tidak mungkin, dan sebagainya. Penggunaan dua tanda negatif perlu dihindarkan.
c)      Pernyataan jangan mengutip apa adanya (kutipan secara verbatim) dari buku. Penggunaan pernyataan yang dikutip secara verbatim akan menimbulkan kecenderungan peserta didik menghafalkan buku secara verbalistis.
d)      Jumlah pernyataan yang benar dan salah harus seimbang, separuh benar dan separuh salah. Hal itu dimaksudkan untuk mengatasi adanya kemungkinan peserta didik yang hanya menjawab benar atau salah semua secara asal.
e)      Kemungkinan jawaban B-S-B-S, BB-SS-BB-SS, atau B semua kemudian S semua sebaliknya.
·      Penentuan Skor
Penentuan skor peserta didik dapat dilakukan dengan dua macam cara, yaitu dengan rumus tanpa tebakan dan rumus dengan tebakan. Penggunaan rumus tebakan dilakukan jika kita ingin “mendenda”, yaitu berdasarkan asumsi bahwa dari sekian jumlah jawaban yang benar itu ada yang dijawab secara untung-untungan.
                    Rumus tanpa tebakan
                    Rumus : S=R
                    S: skor, dan R (right): jumlah jawaban betul. Jadi untuk memeroleh skor peserta didik kita hanya menghitung jumlah jawaban yang betul.
                    Rumus tebakan
                    Rumus: S=R-W
                    W (Wrong): jumlah jawaban salah. Jadi kita menghitun jumlah jawaban betul kemudian dikurangi jawaban salah.
        Contoh :
                    Seorang peserta didik mengerjakan dengan betul 18 butir soal dari 20 butir yang ada, berarti ada 2 yang salah. Skor anak itu adalah 18-2=16

Penggunaan rumus tebakan ini bisa menghasilkan skor negatif bagi peserta didik yang jumlah betulnya kurang dari jumlah separuh soal.


3.      Tes Pilihan Ganda
Tes pilihan ganda merupakan suatu bentuk tes yang paling banyak dipergunakan dalam dunia pendidikan. Pada hakikatnya tes pilihan ganda juga memberikan pernyataan benar dan salah pada setiap alternatif jawaban, hanya yang salah lebih dari sebuah. Jadi, peserta didik juga terlibat dalam aktivitas menilai pernyataan-pernyataan benar dan salah. Akan tetapi, karena pernyataan yang salah lebih banyak, kemungkinan untuk berspekulasi untuk mendapatkan jaaban benar lebih kecil daripada tes benar-salah.
Ø  Beberapa petunjuk praktis dalam menyusun item tes pilihan ganda (:
a.       Berilah petunjuk mengerjakan dengan jelas.
b.      Jangan masukkan materi yang tidak relevan dengan apa yang sudah dipelajari siswa.
c.       Pertanyaan pada soal seharusnya merumuskan persoalan yang jelas dan berarti.
d.      Pertanyaan dan option hendaknya merupakan kesatuan kalimat yang tidak terputus.
e.       Panjang option pada suatu soal hendaknya lebih pendek daripada stemnya.
f.       Usahakan agar stem dan option tidak mudah diasosiasikan.
g.       Dalam penyusunannya, pola kemungkinan jawaban yang betul hendaknya jangan sistematis.
h.      Harus diyakini benar bahwa hanya ada satu jawaban yang benar.

            Tes pilihan ganda terdiri dari sebuah pernyataan atau kalimat yang belum lengkap yang kemudian diikuti oleh sejumlah pernyataan atau bentuk yang dapat untuk melengkapinya. Dari sejumlah “pelengkap” tersebut, hanya sebuah jawaban yang tepat sedang yang lain merupakan pengecoh atau jawaban salah.






Ø  Contoh soal kelas XII SMA :
·         SK 4 Mengungkapkan informasi dalam bentuk proposal, surat dagang, karangan ilmiah.
KD 4.1 Menulis proposal untuk berbagai keperluan.
KD 4.3 Melengkapi karya tulis dengan daftar pustaka dan catatan kaki.
·         SK 5 Memahami pementasan drama.
KD 5.1 Mengidentifikasi peristiwa, perilaku, dan perwatakannyya, dialog, dan konflik pada pementasan drama.
1.      Nama lain dari teks drama adalah . . . .
a.       Teks pementasan
b.      Teks skrip
c.       Teks dialog
d.      Teks sekenario
e.       Teks percakapan
2.      Karya tulis pelajar sebagai laporan hasil pelaksanaan tugas disebut . . . .
a.       Manuskrip
b.      Dokumen
c.       Disertasi
d.      Skripsi
e.       Makalah
3.      Catatan pendek yang berisi keterangan tambahan atas bagian tertentu dari teks karangan yang ditempatkan pada bagian bawah halaman disebut . . . .
a.      Catatan kaki
b.      Daftar pustaka
c.       Catatan pustaka
d.      Keterangan
e.       Keterangan tambahan

            Pernyataan yang belum lengkap tersebut tidak harus berada di akhir pernyataan, melainkan bisa juga berada di tengah. Akan tetapi, disarankan sebaiknya tidak ditempatkan pada posisi awal pernyataan yang perlu dijawab itu.

Ø  Contoh soal kelas XI SMA:
·         SK 5 Memahami pementasan drama.
KD 5.1 Mengidentifikasi peristiwa, perilaku, dan perwatakannyya, dialog, dan konflik pada pementasan drama.


1.      Lengkapi pernyataan berikut dengan memilih salah satu jawaban yang paling benar:
Dilihat dari perwatakanya, tokoh dalam darama dibedakan menjadi dua yaitu tokoh…………..yang perwatakanya baik, sedangkan tokoh…………..yang perwatakannya jahat.
a.       Antagonis, Protagonis
b.      Utama, Figuran
c.       Protagonis, Antagonis
d.      Figuran, Utama
e.       Utama, Protagonis
2.      Cermatilah kalimat berikut untuk menjawab soal nomer 2
TNI mengambil …………. untuk mempersempit daerah GAM dari radius 9 km menjadi 4 km, hal ini ditujukan untuk menambah ………….. kegiatan TNI dalam menghadapi GAM,seperti yang dinyatakan oleh Mayjen TNI Djalil Jusuf diNangroe Aceh Darussalam.
Dalam ……………. penyempitan daerah GAM tersebut, TNI berhasil menyita sejumlah dokumen dan persenjataan milik anggota GAM.

Kata-kata yang tepat untuk mengisi titik-titik diatasadalah . . . .
a.       Inisiatif, evektifitas, operasi
b.      Inisiativ, evektivitas, oprasi
c.       Inisiatif, efektivitas, operasi
d.      Inisiatif, evektivitas, operasi
e.       Inisiatif, efektivitas, oprasi

            Pernyataaan yang diajukan dapat juga berupa sebuah pernyataan yang lengkap, bahkan mungkin sebuah wacana. Dalam hal pernyataan seperti ini, alternatif jawaban yang disediakan mungkin berupa komentar terhadap pernyataan itu, pernyataan lain yang isinya sesuai, inti masalah pernyataan itu, atau yang lain. Tes pilihan ganda jenis ini sudah melibatkan aktivitas perpikir tinggi daripada dua contoh yang diatas.




Ø  Contoh soal kelas XI SMA:
·         SK 13 Memahami wacana sastra melalui kegiatan mendengarkan pembacaan kutipan/ sinopsis novel.
KD 13.1 Menerangkan sifat-sifat tokoh dari kutipan novel yang dibacakan. 
KD 13.2  Menjelaskan alur peristiwa dari suatu sinopsis novel yang dibacakan.

Bacalah kutipan novel berikut ini untuk menjawab soal nomor 1 sampai 4

Karena tak mau ambil pusing dan membuat keributan, wanita itu tetap membiarkannya sambil terus membaca, memakan kue,dan sekali-kali melihat jam yang tergantung di dinding ruang tunggu. Lagi-lagi, pria tua itu pun mengambil satu kue dan memakannya.

“Kalau saja aku sedang tak berbaik hati, sudah kupanggilin polisi bandara yang sedang berjaga itu agar laki-laki tua tak tahu diri ini ditahan,” gumam wanita itu kesal dan sedikit marah.
Setiap satu kue diambil dan dimakannya, pria tua itu pun mengambil satu kue dan memakannya hingga tibalah saat ketikan tinggal satu kue tersisa dalam kantung.
Wanita itu membiarkannya karena penasaran dan mencoba ingin tahu apa yang akan dilakukan pria tua itu. Dengan senyum dan tawa kecil yang agak gugup, pria tua itu pun mengambil kue terakhir dan memotongnya menjadi dua lalu memberikan satu bagian kepada wanita itu.
“Nggak tahu malu!” kembali ia mengomel dalam hatinya dengan raut wajah yang kecut dan agak marah.

1.      Latar tempat dalam kutipan cerpen di atas adalah . . . .
a.       Bandara
b.      Ruang tunggu
c.       Kantin
d.      Toko Jam
e.       Dalam Pesawat
2.      Perwatakan wanita dalam kutipan cerpen di atas adalah . . . .
a.       Baik hati dan sabar
b.      Pemarah dan sabar
c.       Pemarah dan penggerutu
d.      Baik hati dan pemarah
e.       Suka menolong dan baik hati
3.      Perwatakan pria tua dalam kutipan cerpen di atas adalah . . . .
a.       Percaya diri
b.      Tidak tahu malu
c.       Pemarah
d.      Suka bercanda
e.       a,b, dan d benar
4.      Amanat yang bisa kalian ambil dari kutipan cerpen di atas adalah . . . .
a.      Bersikaplah sopan dengan orang yang belum kita kenal
b.      Bertanyalah sebelum meminta
c.       Jangan menjadi orang yang mudah marah
d.      Berbaikhatilah kepada sesama
e.       Janggan mengambil hak orang lain

5.      Bacalah kutipan cerpen “Filosofi Kopi” Dewi Lestari untuk menjawab soal nomer 5.
Hidup mereka indah dalam keinginan bebas.Hari ini ke padang, esok lusa ke gunung, tak ada yang binggung. Kebimbangan tak pernah hadir karena mereka tahu apa yang dimau. Yakin apa yang diingini. Lari mereka ringan karena tak ada yang menunggangi.
Nilai social yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas adalah . . . .
a.       Kebebasan membuat hidup manusia tidak bingung dan yakin
b.      Setiap manusia memiliki kebebasan sendiri-sendiri tanpa bias digangu oleh orang lain
c.       Kebebasan tidak bias diganggu
d.      Hidup adalah kebebasan
e.       Keindahan hidup sejatinya ada pada kebebasan

            Tentang banyaknya alternatif jawaban (opsi) yang harus disediakan, tidak ada ketentuan yang pasti. Namun, yang sering dilakukan orang adalah bekisar 3, 4, atau 5 buah, dan paling banyak ditemukan adalah 4 buah. Semakin banyak alternatif jawaban yang disediakan, semakin sulit suatu butir soal dan semakin kecil kemungkinan tepatnya jawaban peserta didik yang hanya berspekulasi. Akan tetapi, perlu dipertimbangkan bahwa membuat lima alternatif jawaban dengan baik juga tidak muah dilakukan.
·         Saran Penyusunan Tes Pilihan Ganda
a)      Pernyataan pokok (stem) hendaknya hanya berisi satu permasalahan. Permasalahan mungkin kompleks, tetapi penyajiannya harus jelas dan tidak membngungkan.
b)      Tiap satu butir soal hanya ada satu alternatif jawaban yang paling tepat. Alternatif jawaban yang lain yang berlaku seebagai pengecoh harus menunjukkan unsur tertentu yang memang salah. Selain itu harus dihindari adanya butir pengecoh yang mempunyai benar sehingga “menyaingi” atau masih dapat diperdebatkan dengan jawaban yang benar.Contoh :
c)      Semua alternatif jawaban yang disediakan harus mempunyai hubungan gramatikal yang benar atau sesuai dengan pernyataan. Alternatif yang tidak dapat dirangkaikan dengan pernyataan akan mudah ditebak sebagai jawaban yang salah . Dalam kaitan ini, penyusunan alat tes harus sabar sekali lagi meneliti kesesuaian semua opsi tersebut dengan stem.
d)      Panjang tiap opsi hendaknya kurang lebih sama. Adanya opsi yang jauh lebih panjangatau pendek daripada opsi-opsi yang lain akan mudah ditebak sebagai jawaban yang benar atau salah. Selain itu, ia juga kan mengurangi kadar face validity soal tes yang bersangkutan.
e)      Kita harus menghindari pemberitahuan jawaban yang benar secara tidak langsung yang mungkin terlihat pada butir-butir soal berikutnya, oleh karena itu, antara soal yang satu dengan yang lain hendaknya tidak ada saling kaitan.
f)       Jumlah jawaban benar untuk masing-masing opsi hendaknya kurang lebih sama dan hindari adanya jawaban benar yang berpola tertentu. Jika jumlah butir soal ada 60 buah, jawaban yang benar untuk opsi A, B, C dan D masing-masing 5 buah, dan jangan, misalnya, aa, bb, cc, dd, atau yang lain yang membentuk pola tertentu.
4.      Tes Isian
Tes isian, melengkapi, atau menyempurnakan merupakan satu bentuk tes objektif yang terdri dari pernyataan-pernyataan yang sengaja dihilangkan sebagian unsurnya, atau yang sengaja dibuat secara tidak lengkap.
Saran penyusunan tes isian:
1.       Tiap satu pernyataan yang berisi tempat kosong yang harus dijawab siswa harus hanya berisi satu kemungkinan jawaban yang benar.
2.       Kutipan dari buku yang bersifat verbatim hendaknya dihindari karena hal itu akan menimbulkan sikap menghafal siswa tanpa disertai pengertian.
3.       Pemberian tempat kosong atau titk-titik hendaknya sama panjjang agar tidak menimbulkan penafsiran tertentu pada pihak siswa
4.       Tempat kosong sebaiknya tidak ditempatkan pada awal kalimat karena hal itu kurang mendorong lancarnya pemikiran siswa.
A.     Soal Isian
Contoh soalisian:
1.      Keadaan, kejadian, atau peristiwa yang benar dan bias dibuktikan adalah……………
2.      Menarik kesimpulan dengan mengunakan cara/pola membandingkan dua hal yang memiliki dua sifat sama disebut pola………………….
3.      Proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fakta atau gejalak khusus yang diamatilalu ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati disebut pola……………………..
4.      Catatan singkat mengenai jalanya persidangan (rapat) atau pun diskusi serta hal-hal yang dibicarakan dan diputuskan disebut…………….
5.      Ciri paragraph  yang kalimat utamanya berada di awal paragraph adalah paragraf……………..
Jawaban
1.      Fakta
2.      Analogi
3.      Generalisasi
4.      Notulen
5.      Deduktif














            II. Memahami Proses Penyusunan Tes Esai dan Kinerja
A. Tes Esai
                Secara umum tes esai banyak digunakan untuk merujuk pada tes subjektif pada umumnya, yang seperti diungkapkan sebelumnya, penskoran hanya dapat dilakukan secara subjektif. Secara lebih khusus, tes esai mengacu pada tes yang jawabannya berupa suatu esei atau uraian dalam berbagai gaya penulisan, seperti deskriptif dan argumentative, sesuai dengan permasalahan yang menjadi pokok bahasan. Panjang pendek jawaban yang dituangkan dalam bentuk esei tergantung pada rambu-rambu cara pengerjaan yang ada pada umumnya dituangkan dalam bentuk petunjuk pengerjaan tes. Demikian juga tentang hal-hal lain yang perlu diperhatikan oleh peserta tes, yang dapat meliputi susunan dan organisai isi jawaban, lama waktu yang tersedia untuk menjawab, dan bahkan kadang-kadang skor yang disediakan untuk jawaban yang diharapkan. Meskipun telah diberikan berbagai petunjuk cara mengerjakan tes dan menjawab butir-butir tesnya, jawaban peserta tes biasanya masih beragam sesuai dengan tingkat pemahaman dan kemampuan masing-masing peserta tes untuk mengungkapkannya. Oleh karena itu penilaian terhadap tes esei sebagai tes subjektif senantiasa diwarnai dengan subjektivitasi korektor yang mungkin dapat dikurangi meskipun tidak dapat sepenuhnya ditiadakan.  (Djiwandono,M Soenardi. 2008. Tes Bahasa: Pegangan bagi pengajar bahasa)
1. Penggunaan tes esai
·         Jumlah siswa yang akan di tes relative kecil, dan alat tes itu sendiri tak akan dipergunakan lagi.
·         Kita bermaksud memberanikan siswa untuk mengemukakan kemampuan berpikirnya dalam tingkatan kognitif yang tinggi dalam bentuk ekspresi tulis.
·         Kita bermaksud untuk menilai proses berpikir siswa daripada hasil pemikirannya itu sendiri. Jadi, yang diutamakan adalah penalaran, kejelaasan, dan keruntutan cara berpikirnya.
·         Kita yakin pada kemampuan sendiri untuk bertindak sebagai pembaca yang kritis, bukan sebagai penulis yang membayangkan jawaban seperti dalam menyusun tes objektif.
·         Kita tahu pasti bahwa kita mempunyai waktu yang cukup untuk memeriksa pekerjaan siswa.

Dari semua jenis tes subjektif, tes esai merupakan jenis tes subjektif yang jawabannya paling panjang dan paling beragam isi dan kemasannya. Tidaklah mengherankan bahwa pelaksanaan penskoran terhadap jawaban peserta tes esai ini pun pada umumnya diwarnai dengan tingkat subjektivitas yang paling tinggi. Penskoran tes subjektif dalam bentuk esai tidak dilakukan dengan menggunakan bentuk kunci jawaban seperti yang digunakan pada penskoran tes objektif, melainkan atasa rambu-rambu penskoran. (scoring guide). Rambu-rambu penskoran ini tidak memuat bentuk dan wujud jawaban yang pasti untuk masing-masing butir tes seperti halnya kunci jawaban pada tes objektif.
Rambu-rambu penskoran tes subjektif sekedar memuat pedoman, kadang-kadang sekedar criteria, yang menyebutkan jawaban yang diharapkan dalam hal relevansi isi, susunan, bahasa, yang digunakan termasuk ejaan, bahkan panjang dan pendeknya jawaban, dan lain-lain. Kadang-kadang disertakan pula proporsi skor yang disediakan bagi masing-masing unsur berdasarkan tingkat pentingnya suatu unsure yang diskor. Penilaian esai dengan berdasarkan rincian unsure jawaban semacam itu dikenal sebagai penilaian analitik .


Kriteria Penskoran Tes Esai Secara Analitik

Penskoran jawaban peserta tes terhadap masing-masing butir tes berdasarkan sejumlah criteria, yaitu aspek-aspek yang dianggap penting.

1. Relevansi, isi jawaban peserta tes dengan jawaban yang diharapkan.
2. Kecukupan, isi jawaban peserta tes tentang masalah ditanyakan.
3. Kerampian, dan kejelasan penyusunan isi jawaban peserta tes.
4. Lain-lain, yang perlu dan relevan dengan bidang kajian titik berat sasaran tes ( dengan uraian dan rinciannya) , misalnya penggunaan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti.

Rincian Kriteria dengan Tingkatan Ketercapaian Kriteria dan Alokasi pada tes Esei

NO.
KRITERIA
RINCIAN TINGKAT KETERCAPAIAN KRITERIA
SKOR
1.
RELEVANSI ISI
Isi sepenuhnya sesuai dengan pertanyaan
Isi sebagian besar sesuai dengan pertanyaan
Isi sedikit sesuai dengan pertanyaan
Isi jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan           
4             
3
2
1
2.
KETUNTASAN
Jawaban tuntas
Jawaban hampir tuntas
Jawaban kurang-kurang tuntas
Jawaban jauh dari tuntas
4
3
2
1
3.
PENGORGANISASIAN
Amat sistematis
Mendekati sistematis
Sedikit sistematis
Tidak sistematis
4
3
2
1

Jika penskoran itu dilakukan tanpa pembobotan dalam arti bahwa semua kriteria dianggap sama berat dan dialokasikan rentangan skor yang sama, maka skor jawaban esei seorang peserta tes diperoleh dengan menjumlahkan skor-skor yang diperolehnya. Jika penskoran dilakukan dengan pembobotan, maka bobot masing-masing kriteria perlu ditentukan berdasarkan pentingnya berbagai komponen kemampuan dalam melakukan pekerjaan yang ditugaskan.


B.      Langkah-langkah dalam menyusun tes esei
1)      Materi yang akan diujikan hendaknya materi yang kurang cocok diukur dengan menggunakan tes objektif, misalnya:
-          Kemampuan anak didik untuk menyusun pendapatnya mengenai suatu problem.
-          Hasil pekerjaan anak didik setelah mengadakan kegiatan seperti peninjauan, kerja nyata, dan sebagainya.
-          Kemampuan anak didik dalam hal mengarang.
-          Kecakapan anak didik dalam memecahkan problem.
2)      Setiap pertanyaan hendaknya menggunakan petunjuk dan rumusan yang jelas dan mudah dipahami sehingga tidak menimbulkan kebimbangan kepada anak didik. Misalnya:
-          Apa perbedaan antara mutu pendidikan dan pendidikan mutu?
-          Bandingkan rumusan TIU dan rumusan TIK. Berikan masing-masing contoh!
-          Bagaimana sistem pendidikan nasional sejak tahun 1969 sampai dengan 1985? Coba jelaskan denga singkat.
3)   Jangan memberikan kesempatan kepada anak didik untuk memilihh beberapa item dari                             sejumlah item yang diberikan, sebab cara demikian tidak memungkinkan untuk memperoleh             skor yang dapat di bandingkan.
4)   Persoalan dalam item tes esei hendaknya terarah pada hal-hal seperti : menelaah persoalan, melukiskan persoalan, menjelaskan persoalan, melukiskan persoalan, menjelaskan persoalan, membandingkan dua hal atau lebih, mengemukakan kritik terhadap sesuatu, menyelesaikan suatu persoalan seperti menghitung, membuat contoh mengenai suatu pengertian, memecahkan suatu persoalan dengan jalan mengaplikasikan prinsip-prinsip yang telah dikuasainya, dan menyusun suatu konsepsi.
C. Contoh soal esai
Ø  SK 1 Memahami dialog interaktif pada tayangan televisi/ siaran radio
Ø  KD 1.1 Menyimpulkan isi dialog interaktif beberapa narasumber pada tayangan televisi/ siaran radio
Ø  Wacana
Agus:  Belajar dengan sungguh-sungguh dangiat, berdoa agar bias menjadi yang lebih baik.
Risky: Melatih mengerjakan soal pelajaran, mencoba mengerjakan soal yang sangat sulit. Jika menjumpai kesulitan bertanya pada guru.
Amin: Ingin lulus dengan nilai yang baik dan memuaskan. Mengerjakan soal-soal dengan sungguh-sungguh dan benar, mengerjakan soal sendiri dan tidak mencontek.
Ari:      Bisa meraih prestasi di sekolah dengan nilai yang sempurna.
Susi:   Mengantuk saat belajar merupakan hambatan saya dalam belajar. Ketika mengantuk membuat belajar tidak konsentrasi.
Bayu: Selalu sujud syukur atas nilai baik yang tercapai.
Ø  Soal:
1.      Tuliskan tema dialog interaktif tersebut!
2.      Simpulkan isi dialog interaktif tersebut dan disertai alasan yang logis!
Ø  Jawaban:
1.      Kesadaran kita saat memasuki kelas IX dan cara belajar yang efektif.
2.      Dari wacana di atas dapatd isimpulkan bahwa dengan cara belajar yang efektif kita bias memperoleh hasil yang memuaskan
D.      Cara mengoreksi tes esei
Ada tiga cara untuk mengoreksi item-item bentuk tes esei ini, yaitu:
-          Whole method, yaitu metode per nomor. Disini kita akan mengoreksi pekerjaan murid setiap nomor. Misalnya kita mengoreksi nomor satu untuk seluruh siswa., kemudian nom dua untuk seluruh siswa, dan seterusnya. Kebaikan nya adalah pemberian skor yang berbeda atas dua jawaban yang kualitasnya sama hampir tidak akan terjadi karena jawaban testi yang satu itu selalu dibandingkan dengan jawaban testi yang lain. Sedangkan kelemahannya adalah pelaksanaanya terlalu berat dan memakan waktu.
-          Separated method, yaitu metode per lembar. Disini kita mengoreksi setiap lembar jawaban murid sampai selesai. Kebaikannya adalah relative mudah dan tidak memakan waktu banyak. Sedangkan, kelemahannya adalah kita sering member skor yang berbeda atas dua jawaban yang sama kualitasnya atau sebaliknya.
-          Cross method, yaitu metode bersilang. Kita mengoreksi jawaban siswa dengan jalan menukarkan hasil koreksi dari seorang korektor kepada korektor lain. Dengan kata lain, jika telah selesai dikoreksi oleh seorang korektor , lalu dikoreksi kembali oleh korektor yang lain. Kelebihannya adalah faktor subjektif dapat dikurangi. Sedangkan kelemahannya adalah membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak.
Dalam pelaksanaan pengoreksian kita boleh memilih salah satu di antara ketiga metode tersebut, atau mungkin kita menggunakannya secara bervariasi. Hal ini harus disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya kita menghendaki hasil jawaban yang betul-betul objektif, maka lebih tepat bila kita menggunakan metode silang ( cross method). Sebaliknya, bila ada waktu luang, maka ada baiknya kita menggunakan metode per nomor ( whole method) atau metode per lembar ( separated method).

E.     Tes Perbuatan/Tes Kinerja
Tes perbuatan atau tes kinerja adalah tes yang menuntut jawaban peserta didik dalam bentuk perilaku, tindakan, atau perbuatan. Stigins mengemukakan “tes kinerja adalah suatu bentuk tes yang peserta didiknya diminta untuk melakukan kegiatan khusus di bawah pengamatan penguji yang akan mengobservasi penampilannya dan membuat keputusan tentang kualitas hasil belajar yang didemonstrasikan (Zainal Arifin, Evaluasi Pebelajaran, 2009)
Peserta didik bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan dan ditayakan.
            Tes tindakan sebagai suatu teknik evaluasi banyak digunakan hampir setiap mata pelajaran, seperti olahraga, teknologi informasi dan komunikasi, bahasa, kesenian, dan sebagainya. Tes tindakan dapat dilakukan secara kelompok dan individual. Secara kelompok berarti seorang guru menghadapi sekelompok peserta didik, sedamgkan secara individual berarti seorang guru menghadapi seorang peserta didik.
            Tes tindakan dapat digunakan untuk menilai kualitas suatu pekerjaan yang telah selesai dikerjakan oleh peserta didik, termasuk juga keterampilan dan ketepatan menyelesaikan suatu pekerjaan, kecepatan, dan kemampuan merencanakan suatu pekerjaan, dan mengidentifikasi suatu peranti. Tes tindakan dapat difokuskan pada proes, produk, atau keduanya
·         Langkah-langkah Penyusunan Tes Tindakan
a)      Jabarkanlah kegiatan yang akan dipraktekkan kedalam unsur-unsurnya.
b)      Susunlah unsur-unsur perilaku yang akan diukur dalam pedoman pengamatan secara logis.
c)      Buatlah petunjuk pengerjaan yang tepat.
d)      Identifikasi alat-alat perlengkapan yang diperlukan.
e)      Pertimbangan kemungkinan pelaksanaan.
·         Penentuan Skor
Penyekoran tes tindakan didasarkan pada sejauh mana keterampilan dan ketepatan testi meragakan kegiatan sesuai dengan petunjuk. Disini para penguji harus memiliki gambaran operasional tentang penampilan yang diharapkan. Dengan kata lain, para peguji harus mengetahui pola penampilan yang seharusnya. Hal-hal yang dapat kita jadikan acuan dalam pemberian angka adalah:
-          Kecepatan penampilan
-          Ketepatan cara melakukan
-          Ketelitian
-          Keterampilan menggunakan alat
-          Kesetiaan terhadap instruksi
Dalam proses penyekoran gunakan pengamatan (pedoman penyekoran). Skor akhir sama dengan rata-rata dari jumlah skor setiap pengamat. (Evaluasi Pengajaran, 1999:123)




·         Contoh soal:
Tes Kinerja (kelas IX)
Ø  SK 14 Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan drama
Ø  KD 14.1 Membahas pementasan drama yang ditulis siswa
      14.2 Menilai mementasan drama yang dilakukan oleh siswa
Ø  Soal
1.      Bentuklah kelompok yang beranggotakan 4-5 orang.
2.      Carilah naskah drama yang singkat dan menarik
3.      Dramatisasi kan naskah drama kelompok mu tersebut!
4.      Mintalah tanggapan dari kelompok lain!
5.      Diskusikan hasil pementasan drama kelompokmu!


RUBRIK PENILAIAN PEMENTASAN DRAMA
(Penggunaan gerak-gerik, mimik, lafal, intonasi, nada/tekanan
                             sesuai dengan watak tokoh)
RPP NOMOR 34











Kompetensi Dasar    : Menggunakan gerak-gerik, mimik, dan intonasi sesuai dengan
                                     watak tokoh dalam pementasan drama
         Nama Siswa                :
         Kelas/No Absen         :
         Tanggal Penilaian     :

KOMPONEN
SKOR
1
2
3
4
5
1. Lafal/ucapan (terdengar jelas oleh penonton?)





2. Intonasi (bervariasi sesuai tuntutan naskah?)





3. Pengaturan nada (pengaturannya tepat sehingga
maksud kalimat mudah ditangkap penonton?)





4. Intensitas dan kelancaran berbicara (konsisten?)





5. Kemunculan pertama (mantap dan memberikan
kesan akan karakter tokoh/tidak?)





6. Pemanfaatkan ruang yang ada untuk memosisikan
tubuh (blocking) saat pementasan (baik/tidak?)





7. Ekspresi dialog untuk menggambarkan karakter
tokoh (sesuai karakter tokoh?)





8. Ekspresi wajah (sesuai dengan karakter tokoh?)





9. Pandangan mata dan gerak anggota tubuh (sesuai
karakter tokoh?





10. Gerakan/tingkah laku (sesuai karakter tokoh?)






SKOR (MAKSIMAL 50)










Bab III





Penutup


A.     Simpulan
Tes objektif adalah tes yang penskorannya dapat dilakukan dengan tingkat objektivitas yang tinggi.Beberapa bentuk tes objektif tesobjektif adalah a) tes menjodohkan, b) tes benar salah,dan c) tes pilihan ganda.
Tes esai mengacu pada tes yang jawabannya berupa suatu esei atau uraian dalam berbagai gaya penulisan, seperti deskriptif dan argumentative, sesuai dengan permasalahan yang menjadi pokok bahasan.
Tes perbuatan atau tes kinerja adalah tes yang menuntut jawaban peserta didik dalam bentuk perilaku, tindakan, atau perbuatan.Tes tindakandapat difokuskan pada proes, produk, atau keduanya.
Dari segi penyusunan soal maupun jawaban ketiga tes diatas harus mematuhi kaidah atau langkah-langkah serta criteria sehingga tidak bias dilakukan secara sembarangan dan harus berpegang padaStandar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD).













Daftar Pustaka
Arifin, Zaenal. 1990. Evaluasi Instruksional. Bandung : Rosdakarya
Arifin, Zaenal. 2009. Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, Prosedur. Bandung: Rosdakarya
Djiwandono, M. Soenardi. 2008. Tes Bahasa: Pegangan Bagi Pengajar Bahasa. Jakarta: Indeks
Dokumen SK KD KTSP 2006
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE
Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Nomor

1 komentar:

  1. Hai... saya menyukai pstingan anda.... terima kasih telah memberi referensi jenis tes dan contohnya...

    BalasHapus