Analisis Gaya Bahasa Perbandingan
dalam Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” Karya Ahmad Tohari
Oleh:
Risti Anggraeni 111224067
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sanata Dharma
2013
BAB I
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi utama manusia. Bahasa sudah ada sejak
jaman dahulu, dan digunakan manusia untuk menyampaikan ide/gagasan, meminta,
memberi perintah, dan sebagainya. Dalam perkembangannya kita mengenal adanya
bahasa dalam wujud tulisan dan bunyi.
Tulisan baru berkembang setelah adanya bunyi sebagai alat komunikasi.
Masyarakat jaman dahulu mengenal kentungan yang dibunyikan dengan irama-irama
tertentu untuk berkomunikasi, bahkan masyarakat primitif dahulu menggunakan
siulan, dan terompet untuk berkomunikasi. Selanjutnya komunikasi berkembang
melalui tulisan. Tulisan dianggap sebagai alat komunikasi yang paling efektif,
melalui tulisan kita tidak hanya dapat
berkomunikasi dengan manusia yang
ada disekitar kita saja, melainkan kita dapat berkomunikasi dengan generasi
setelah kita, hal ini disebabkan karena tulisan mampu menyimpan ide/gagasan
kita, yang dapat dimengerti dan dibaca kembali oleh generasi-generasi setelah
kita. Selain itu, indera pengelihatan kita dapat juga digunakan sebagai alat komunikasi, misalnya lampu mercusuar yang ada di laut, berguna untuk
menginformasikan kepada kita tentang keadaan di laut. Jadi, bahasa merupakan
alat komunikasi utama yang dipergunakan
masyarakat dalam kehidupannya.
Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi sebenarnya sudah dikaji dalam
filsafat, yang kemudian berkembang dan berdiri sendiri sebagai linguistik.
Linguistik merupakan ilmu bahasa. Linguistik sendiri telah membegi bahasa
menjadi dua yaitu bahasa primer dan sekunder,
bahasa primer adalah bahasa lisan, sedangkan bahasa sekunder adalah
bahasa tulis. Seringkali dalam bahasa lisan maupun tulis, manusia menggunakan
gaya bahasa tertentu untuk menyampaikannya. Didalam bahasa bidang ini dikaji
dalam semantik, yaitu ilmu yang mempelajari makna secara lingual tentang suatu
bahasa. Makna yang dibahas disini hanya terbatas pada aspek lingualnya saja,
sedagkan aspek nonlingual tidak dibahas.
Semantik dalam arti luas mencakup semantik, pragmatik dan sintaksis.
Semantik mengkaji makna secara internal/gramatikal, maksudnya adalah dalam
semantik hanya mengkaji tentang makna yang ada, yang telah dibawa oleh kata itu
di dalam struktur kalimat. Suatu kata mungkin memiliki dua arti, namun keduanya
baru bisa terlihat jika sudah masuk
dalam kalimat dengan konteks tertentu, jadi secara gramatikal artinya bisa
berbeda. Contohnya kata genting, pada kalimat “Dalam keadaan genting seperti ini dia masih sempat bermesra-mesraan
dengan kekasihnya.” dan “Genting
rumah itu baru saja diganti dengan yang baru.” Pada kalimat pertama, kata
genting mempunyai arti tegang atau berbahaya, sedangkan kata genting pada
kalimat kedua mempunyai arti tutup atap rumah yang terbuat dari tanah
liat yang dicetak dan dibakar. Arti kata genting dalam kedua kalimat tersebut
baru terlihat dengan jelas ketika konteks dari kalimat yang dimaksud juga sudah
jelas. Makna dalam kalimat yang bberdiri sendiri disebut makna leksikal,
sedangkan makna yang melekat pada unsur lain disebut dengan makna gramatikal.
Jika semantik lebih menekankan
pada pembelajaran makna secara lingual tentang suatu bahasa, maka lain halnya
dengan pragmatik. Pragmatik mengkaji maksud ujaran dengan satuan analisisnya
berupa tindak tutur (speech act). Kajian pragmatik sendiri lebih menekankan
pada ilokusi dan perlokusi daripada
lokusi. Ilokusi adalah maksud yang ingin disampaikan penutur, bukan makna yang
ingin disampaikan penutur. Perlokusi adalah efek komunikatif yang terjadi pada pendengar,
bagaimana reaksi lawan tutur saat mendengar ujaran, misalnya seorang guru berkata
pada muridnya, “Wah, kapurnya habis.”, reaksi seorang murid yang mengerti akan
maksud ujaran gurunya tentu akan segera mencari kapur. Reaksi murid inilah yang
disebut dengan perlokusi.
Seringkali para sastrawan
menggunakan gaya bahasa tertentu, untuk menjelaskan gagasan-gagasan mereka.
Gaya bahasa sendiri merupakan salah satu kajian dalam bidang semantik. Figure of Speech atau yang sering
disebut dengan gaya bahasa, adalah gaya ungkap seseorang, yaitu bagaimana
seseorang mengungkapkan gagasan-gagasan, pemikirannya. Gaya bahasa ada
bermacam-macam, diantaranya adalah pertautan, perbandingan, perulangan, dan
perumpamaan. Penggunaan gaya bahasa dalam sebuah karya sastra biasanya
bertujuan untuk meninggikan serta meningkatkan efek dengan cara memperkenalkan serta
membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang
lain. Dengan penggunaan gaya bahasa yang demikian ini, dapat menimbulkan nilai rasa atau konotasi tertentu
pada pembaca/penikmat sastra (Dale (et al) dalam Tarigan 1986:112).
Gaya bahasa dan semantik saling
berkaitan, sebab tanpa mempelajari semantik atau dengan kata lain tanpa
pengetahuan tentang makna kata, maka akan sulit untuk memahami gaya bahasa yang
beraneka ragam.
Penggunaan gaya bahasa sering
dijumpai dalam karya sastra baik novel maupun puisi, tidak terkecuali novel
yang berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Dalam makalah ini akan
dipaparkan analisis gaya bahasa perumpamaan atau dalam bahasa Inggris disebut simile.
B.
Rumusan
Masalah
a.
Apa
yang dimaksud dengan gaya bahasa perumpamaan?
b.
Apakah
dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk” terdapat penggunaan gaya bahasa perumpamaan?
c.
Bagaimana
analisa gaya bahasa perumpamaan dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk”?
C.
Tujuan
Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu:
a.
Secara
Umum
Secara umum tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
terstruktur dari dosen, sebagai syarat ujian akhir semester
b.
Secara
Khusus
1.
Mengetahui
gaya bahasa perumpamaan
2.
Mengetahui
adanya penggunaan gaya bahasa perumpamaan dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk”
3.
Menganalisis
penggunaan gaya bahasa perumpamaan dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruk”
BAB II
Pembahasan
A.
Landasan Teori
Gaya bahasa atau biasa
disebut dengan ‘figure of speech’
adalah bahasa kias yang biasa digunakan untuk meninggikan atau meningkatkan
efek dengan cara membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang
lebih umum. Dengan demikian, penggunaan gaya bahasa tertentu dapat merubah
serta menimbulkan nilai rasa atau konotasi tertentu.
Gaya bahasa merupakan
bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara, dan menulis untuk
meyakinkan ataupun mempengaruhi para penyimak dan pembaca. Jadi melalui
penggunaan kata-kata dalam berbicara, dan menulis, seseorang mampu mempengaruhi
penyimak dan pembacanya. Mereka dapat memunculkan/menimbulkan suatu efek-efek
tertentu melalui bentuk-bentuk retorik yang meereka gunakan. Kata retorik
sendiri berasal dari bahasa Yunani rhetor yang berarti orator atau ahli pidato. Pada
masa Yunani kuno, retorik merupakan suatu bagian penting dari suatu pendidikan
dan oleh karena itu anaka ragam gaya bahasa sangat penting dan harus dikuasai
oleh orang-orang Yunani dan Romawi.
Gaya bahasa sendiri
ada 4 macam yaitu perulangan, perbandingan, pertautan dan pertentangan.
Selanjutnya dalam gaya bahasa perbandingan dapat dikelompokkan lagi
menjadi perumpamaan, kiasan,
penginsanan, sindiran, dan antitesis.
Gaya bahasa perumpamaan adalah padan kata simile dalam bahasa Inggris. Kata simile berasal dari bahasa Latin yang bermakna ‘seperti’.
Perumpamaan adalah perbandingan dua hal yang pada hakekatnya berlainan dan yang
sengaja kita anggap sama. Perbandingan itu secara eksplisit dijelaskan oleh
pemakaian kata seperti, ibarat, umpama,
bak, laksana, dan sejenisnya. (Tarigan, 1986:118)
B.
Analisis Novel
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada novel yang berjudul
“Ronggeng Dukuh Paruk” ditemukan penggunaan gaya bahasa perbandingan/simile. Ada
sekitar 19 kalimat yang menggunakan gaya bahasa simile, yaitu:
1.
Di bagian langit lain, seekor burung pipit
sedang berusaha mempertahankan nyawanya. Dia terbang bagai batu lepas dari ketapel sambil menjerit-jerit sejadinya.
(hlm. 9)
2.
Biji dadap yang telah tua menggunakan kulit
polongnya untuk terbang sebagai baling-baling. Bila angin berembus tampak seperti ratusan kupu terbang menuruti
arah angin meninggalkan poho dadap. (hlm. 10)
3.
Setelah didapat, Rasus memanjat. Cepat seperti seekor monyet. (hlm. 12)
4.
Ibarat
meniti sebuah titian panjang berbahaya, aku hanya bisa menceritakannya kembali,
mengulas serta merekamnya setelah aku sampai di seberang. (hlm. 32)
5.
Arif seperti
sepasang perkutut itu adalah Wirsiter
dan Ciplak, istrinya. (hlm. 128)
6.
Latar sejarahnya yang melarat dan udik ibarat beribil. (hlm. 185)
7.
Tetapi Srintil tenang seperti awan putih bergerak di akhir musim kemarau. (hlm. 190)
8.
Matanya berkilat seperti kepik emas hinggap di atas daun. (hlm. 190)
9.
Dia menari seperti
mengapung di udara; lincah dan bebas lepas. Kadang seperti burung beranjangan, berdiri di atas satu titik meski sayap
dan paruhnya terus bergetar. Kadang seperti
bangau yang melayang meniti arus angin. (hlm. 193)
10.
Megap-megap, mulutnya terbuka seperti ikan mujair. (hlm. 194)
11.
Di hadapan mereka Dukuh Paruk kelihatan remang seperti seekor kerbau besar sedang
lelap. (hlm. 197)
12.
Kadang suara Srintil penuh semangat, garakannya cekatan, seperti seorang ibu yang sedang
mengajari anaknya berjalan. (hlm. 216)
13.
Padahal sejak semula Rasus mengerti pekerjaan
semacam itu ibarat mendongkel
sejarah dengan sebatang lidi. (hlm. 265)
14.
Bila ternyata dirinya masih mewujud, pikir
Srintil, itu karena aib adalah salah satu faset kehidupan dan dia harus mewujud
disana. Seperti tinja yang harus ada
di dalam usus manusia. (hlm. 272)
15.
Dukuh Paruk merambat perlahan seperti akar ilalang menyusuri cadas.
(hlm. 275)
16.
Dan bila ditiup menentang arus angin, suara
puput jadi muncul tenggelam seperti
bulan hilang-tampak di balik awan. (hlm. 290)
17.
Srintil bingung seperti munyuk dirubung orang. (hlm. 296)
18.
Namun setiap kali diurungkannya; batu-batu di
atas jalan pegunungan itu bergerak seperti
mata gergaji besar yang akan menggorok apa saja yang jatuh ke permukaannya.
(hlm. 297)
19.
Dari jauh udara di permukaan tanah kelihatan
berbinar seperti riak-riak panas
pada telaga yang mendidih. (hlm. 309)
Berikut ini akan
dipaparkan analisis gaya bahasa perumpamaan dari kalimat-kaliimat tersebut.
Judul
novel : Ronggeng
Dukuh Paruk
Pengarang
: Ahmad Tohari
Cetakan
ketujuh : November 2011
Tebal
: 401
halaman
1.
“Di
bagian langit lain, seekor burung pipit sedang berusaha mempertahankan
nyawanya. Dia terbang bagai batu
lepas dari ketapel sambil menjerit-jerit sejadinya.”
Pada kalimat ini menggunakan kata bagai
yang secara eksplisit menjadi kata pembanding, antara ‘dia’ (burung pipit)
dengan ‘batu’. ‘dia’ (burung pipit) dalam kalimat ini disamakan dengan ‘batu’
yang lepas dari ketapel dan menjerit-jerit sejadinya. Artinya burung pipit
tersebut terbang/melesat dengan kencang, sama dengan saat sebuah batu lepas
dari ketapel. Dengan menggunakan gaya bahasa seperti ini, pembaca menjadi dapat
membayangkan seberapa cepat burung pipit
itu terbang untuk menyelamatkan diri, dan kita mengetahui kecepatan sebuah batu
saat lepas dari ketapel meluncur dengan cepat, seperti itulah burung pipit
digambarkan saat terbang mempertahankan nyawanya.
2.
“Biji
dadap yang telah tua menggunakan kulit polongnya untuk terbang sebagai
baling-baling. Bila angin berembus tampak seperti
ratusan kupu terbang menuruti arah angin meninggalkan pohon dadap.”
Penggunaan kata seperti, menandakan adanya perbandingan antara ‘kulit
polong’ dengan ‘ratusan kupu’. Dapat diartikan/dimaknai bahwa ketika kulit
polong biji dadap yang sudah tua tertiup angin, maka akan terlihat sama dengan
ratusan kupu-kupu yang sedang terbang. Kita
dapat membayangkan ratusan kupu-kupu saat sedang terbang, kemudian
menyamakannya dengan kulit polong biji dadap yang terbang berhamburan. Dengan
adanya gaya bahasa perumpamaan, disini kita dapat membayangkan kulit polong
biji dadap yang sedang terbang, kulit polong itu akan tampak sama dengan ratusan
kupu yang sedang terbang.
3.
“Setelah didapat, Rasus memanjat. Cepat seperti seekor monyet.”
Pada kalimat ini menggunakan gaya bahasa perumpamaan
yang ditandai dengan penggunaan kata seperti
yang digunakan untuk membandingkan ‘Rasus’ dan ‘seekor monyet’. Ketika seekor
monyet sedang memanjat, ia akan sangat cepat, kita dapat
menyamakan/membandingkan antara monyet yang sedang memanjat dengan Rasus yang
pada saat itu sedang memanjat pohon.
Makna yang dapat disimpulkan dari kalimat
itu adalah kecepatan Rasus saat memanjat, dapat kita bayangkan sama dengan
kecepatan monyet saat memanjat.
4.
“Ibarat
meniti sebuah titian panjang berbahaya, aku hanya bisa menceritakannya kembali,
mengulas serta merekamnya setelah aku sampai di seberang.” (hlm. 32)
Penggunaan kata ibarat
disini mengumpamakan sulitnya seseorang dalam mendapatkan sesuatu,
sampai-sampai diibaratkan/diumpamakan meniti sebuah titian panjang berbahaya.
Kita dapat berkhayal/berpikir tentang sebuah titian/jembatan panjang yang
berbahaya, yang mungkin dilalui oleh seseorang, kemudian kita dapat merasakan
bagaimana sulitnya meniti jembatan itu. Namun setelah ia berhasil meniti
jembattan itu, ia hanya dapat mengulas dan menceritakannya saja.
5.
“Arif seperti
sepasang perkutut itu adalah Wirsiter dan Ciplak, istrinya.” (hlm. 128).
Pada kalimat ini, gaya
bahasa perumpamaan juga ditandai dengan adanya kata seperti. Kata seperti
disini menjadi kata pembanding antara ‘sepasang perkutut dengan ‘Wirsiter dan
Ciplak’. Dengan menggunakan perbandingan seperti ini kita dapat membayangkan
bagaimana kearifan sepasang perkutut dan membandingkannya dengan kearifan yang
dimiliki Wirsiter dan Ciplak istrinya. Meskipun kita tidak mengenal tokoh
Wirsiter dan Ciplak, kita menjadi tahu kearifan yang mereka miliki melalui
perumpamaannya dengan sepasang perkutut. Makna dalam kalimat ini adalah sifat
arif yang dimiliki oleh ‘Wirsiter dan Ciplak’ sama seperti kearifan sepasang
perkutut.
6.
“Latar sejarahnya yang melarat dan udik ibarat beribil.”
Panggunaan kata ibarat dalam kalimat ini, menjadi
penanda gaya bahasa perbandingan yaitu perumpamaan atau biasa disebut simile.
Kata yang diperbandingkan dalam kalimat ini adalah ‘latar sejarahnya’ (nya disini yang dimaksud adalah Srintil)
dan ‘beribil’. Maknanya adalah, masa lalu Srintil yang pahit, tidak ubahnya beribil/sama dengan
beribil.
7.
“Tetapi Srintil tenang seperti awan putih bergerak di akhir musim kemarau.”
Pada kalimat tersebut, ketenangan yang
dimiliki oleh Srintil disamakan/diumpamakan awan putih, yang sedang bergerak di
tengah musim kemarau. Hal ini dibuktikan dengan adanya kata seperti yang digunakan untuk membandingkan/mengumpamakannya.
Disini kita dapat membayangkan awan putih yang sedang bergerak di akhir musim
kemarau, yang tentunya terlihat sangat tenang. Lalu kita dapat menghubungkannya
dengan ketenangan Srintil pada saat itu. Jadi ketanangan Srintil diumpamakan
awan yang bergerak di akhir musim kemarau.
8.
“Matanya berkilat seperti kepik emas hinggap di atas daun.”
Kata ‘matanya’ (-nya disini merupakan kata
ganti orang, yaitu Srintil) dan ‘kepik emas’, merupakan suatu kata yang
berlainan, tetapi dalam kalimat ini kadua kata tersebut
disamakan/diperbandingkan. Perbandingan itu secara eksplisit dijelaskan oleh
pemakaian kata seperti, jadi
kata disini ‘matanya’ disamakan/diumpamakan ‘kepik emas’. Kita dapat
melihat/membayangkan kepik emas saat berada di atas daun tentu terihat
mengkilat, hal ini sama seperti mata Srintil yang pada saat itu terlihat
menngkilat. Jadi ‘matanya’ (mata Srintil) diperbandingkan dengan kepik emas
yang terlihat mengkilat.
9.
“Dia menari seperti
mengapung di udara; lincah dan bebas lepas. Kadang seperti burung beranjangan, berdiri di atas satu titik meski sayap
dan paruhnya terus bergetar. Kadang seperti
bangau yang melayang meniti arus angin.”
Dia yang dimaksud
disini adalah Srintil, tokoh utama dalam novel. Disini terjadi tiga kali pengumpamaan
menggunakan kata pembanding seperti,
dan kata yang diperbandingkan adalah kata ‘menari’ dengan ‘mengapung di udara’,
‘burung beranjangan’, dan ‘bangau’. Maksud dari kalimat ini adalah cara Srintil
menari yang lincah dan bebas, dan indah, seperti mengapung diudara, dan sama
seperti burung beranjangan serta bangau. Melalui gaya bahasa perumpamaan yang
digunakan penulis kita dapat membayangkan Srintil sedang menari dengan lincah
seakan-akan dia menari diatas udara, dan seperti bangau yang melayang meniti agin.
10.
“Megap-megap, mulutnya terbuka seperti ikan mujair.”
Kalimat ini menggunakan gaya bahasa
perbandingan, yaitu perumpamaan, dibuktikan dengan penggunaan kata seperti yang secara eksplisit
dipakai untuk membandingkan dua kata yaitu
‘mulutnya’ dan ‘ikan mujair’. Maksud dari kalimat ini adalah menyamakan
‘mulutnya’ (-nya yang dimaksud disini adalah kata ganti orang yaitu Srintil)
dengan mulut ikan mujair, karena seringkali mulut ikan mujair terlihat
megap-megap, sama seperti ‘mulutnya’ (mulut Srintil).
11.
“Di hadapan mereka Dukuh Paruk kelihatan remang seperti seekor kerbau besar sedang
lelap.”
Penggunaan kata seperti menunjukkan
perbandiiingan antara dua hal yaitu ‘Dukuh Paruk’ dan ‘seekor kerbau besar
sedang lelap’. Kita dapat membayangkan kerbau yang sedangg tidur, tentu hanya
terlihatseperti bongkahan besar, hitam. Melalui penggunaan gaya bahasa
perumpamaan dalam kalimat ini, kita dapat membayangkan keadaan Dukuh Paruk saat
itu, yatu sama seperti kerbau yang
sedang tidur.
12.
“Kadang suara Srintil penuh semangat, garakannya cekatan, seperti seorang ibu yang sedang
mengajari anaknya berjalan.”
Perbandingan dua hal disini adalah antara
‘suara Srintil penuh semangat, gerakannya cekatan’ dengan ‘seorang ibu yang
sedang mengajari anaknya berjalan’, hal ini dapat ditandai pengan penggunaan
kata seperti diantara dua hal
tersebut. Maksud dari kalimat ini adalah menggambarkan suara dan gerakan
srintil yang penuh semangat dan cekatan,
dan menyamakannya dengan seorang ibu yangsedang mengajari anaknya berjalan.
13.
“Padahal sejak semula Rasus mengerti pekerjaan
semacam itu ibarat mendongkel
sejarah dengan sebatang lidi.”
Penggunaan kata ibarat menjadi pembanding antara ‘pekerjaan semacam itu’
(mencari Srintil yang menjadi tahanan pada masa PKI) dengan ‘mendongkel sejarah
dengan sebatang lidi’. Artinya disini adalah melakukan sebuah pekerjaan yang
tentu tidak mudah, karena pekerjaan tersebut berkaitan dengan zaman/sejarah.
Mengibaratkan sebuah lidi yang tentunya tidak mempunyai kekuatan yang besar,
untuk melakukan suatu hal yang sulit/berat.
14.
“Bila ternyata dirinya masih mewujud, pikir
Srintil, itu karena aib adalah salah satu faset kehidupan dan dia harus mewujud
disana. Seperti tinja yang harus ada
di dalam usus manusia.”
Kata seperti
secara eksplisit menunjukkan perumpamaan/perbandingan antara ‘aib adalah salah
satu faset kehidupan dan dia harus mewujud disana’ dengan ‘tinja yang harus ada
di dalam usus manusia’. Artinya adalah bahawa aib merupakan salah satu bagian
dari kehidupan manusia dan disamakan dengan posisi tinja yang juga merupakan
bagian yang ada dalam usus manusia. Jadi disini yang sebenarnya diumpamakan/dibandingkan
adalah ‘aib’ dan ‘tinja’ dimana posisi keduanya merupakan bagian yang harus ada.
15.
“Dukuh Paruk merambat perlahan seperti akar ilalang menyusuri cadas.”
Dalam kalimat ini yang dimaksud adalah
kehidupan di Dukuh Paruk yang secara perlahan mulai bangkit. Hal tersebut
diumpamakan/disamakan dengan akar ilalang yang tumbuh menyusuri cadas. Dua hal
yang diperbandingkan dalam kalimat itu adalah ‘Dukuh Paruk’ (dalam hal ini yang
dimaksud adalah kehidupannya) dengan ‘akar ilalang menyusuri cadas’. Kita
mengetahui bahwa akar ilalang yang menyusuri cadas akan terus bergerak, disini
disamakan dengan kehidupan Dukuh Paruk, yang dapat kiita bayangkan
tumbuh/berkembang sama seperti akar ilalang tersebut.
16.
“Dan bila ditiup menentang arus angin, suara
puput jadi muncul tenggelam seperti
bulan hilang-tampak di balik awan.”
Kalimat ini mengandung gaya bahasa perumpamaan
yang ditunjukkan dengan adanya kata seperti
sebagai pembanding. Dua hal yang
diperbandingkan dalam kalimat ini adalah ‘suara puput’ dengan ‘bulan
hilang-tampak dibalik awan’. Artinya, suara puput (alat tiup terbuat dari
batang padi atau bambu pendek, adakalanya ditambah dengan daun kelapa)
yang muncul tenggelam, terkadang
terdengar terkadang tidak, disamakan
dengan bulan yang juga terkadang hilang dan terkadang tampak karena tertutup
awan. Kita mengetahui bulan saat tertutup awan dan terkadang terlihat, seperti
itulah gambaran suara puput yang terdengar.
17.
“Srintil bingung seperti munyuk dirubung orang.”
Kalimat ini membandingkan manusia dengan
binatang, hal ini ditandai dengan adanya kata seperti untuk membandingkan dua hal yaitu ‘Srintil’ dan
‘munyuk’. Disini kebingungan Srintil disamakan/diumpamakan seperti munyuk
(monyet) yang sedang dikelilingi oleh
banyak orang. Seekor monyet/ munyuk saat berada ditengah kerumunan banyak orang
akan terlihat bingung, dan kita dapat membayangkan kebingungan seekor
monyet/munyuk tersebut, kamudian menghubungkannya dengan Srintil. Dengan
demikian kita dapat membayangkan keadaan Srintil/kebingungan yang sedang
dialami Srintil.
18.
“Namun setiap kali diurungkannya; batu-batu di
atas jalan pegunungan itu bergerak seperti
mata gergaji besar yang akan menggorok apa saja yang jatuh ke permukaannya.”
Kalimat ini membandingkan ‘batu-batu di atas
jalan’ dengan ‘mata gergaji besar’. Perbandingan itu ditandai dengan adanya
kata seperti yang menjadi
pembanding dalam dua hal tersebut. Kita dapat membayangkan bebatuan di atas
jalan pegunungan yang tidak rata serta banyak batu yang tertanam, kemudian kita
juga dapat membayangkan mata gergaji yang ada pada gergaji. Kedua hal tersebut
sangat mirip, karena sama-sama memiliki
permukaan yang tidak rata. Jadi disini kita dapat membayangkan bagaimana
keadaan jalan itu, yang memiliki
permukaan seperti mata gergaji yang
besar. Penggunaan gaya bahasa perumpamaan disini membantu pembacauntuk dapat
memahami keadaan yang sesungguhnya di khayalkan oleh penulis.
19.
“Dari jauh udara di permukaan tanah kelihatan
berbinar seperti riak-riak panas
pada telaga yang mendidih.”
Kalimat ini menggunakan gaya bahasa perumpamaan, dan membandingkan dua
hal yaitu ‘udara di permukaan tanah’ dengan ‘riak-riak panas pada telaga
mendidih’. Dua perbandingan ini ditandai dengan adanya kata seperti dalam kalimat tersebut.
Kita dapat membayangkan riak-riak panas, meskipun bukan pada sebuah telaga yang
mendidih, yang bergelombang pada sebuah air yang panas, kamudian kita dapat
menghubugkannya dengan permukaan udara tanah yang berbinar dan membentuk
gelombang/beriak sama seperti yang ada pada air mendidih. Jadi disini kita dapatt membayangkan panasnya
udara, sampai-sampai permukaan udara yang berada di atas tanah terlihat
berbinar menyerupai riak pada air/telaga yang mendidih
BAB III
Penutup
Simpulan
Gaya bahasa atau figure of speech adalah
bahasa kias yang biasa digunakan untuk meninggikan atau meningkatkan efek
dengan cara membandingkan suatu benda tertentu dengan benda lain yang lebih
umum.
Melalui penggunaan gaya bahasa dalam sebuah karya sasatra, maka akan
menambah nilai rasa atau konotasi tertentu. Gaya bahasa ada bermacam-macam
salah satunya adalah gaya bahasa perbandingan yang didalamnya mencakup
perumpamaan. Gaya bahasa perumpamaan adalah gaya bahasa yang membandingkan dua
hal yang berbeda, nemun dianggap sama.
Pengunaan gaya bahasa perumpamaan, yang termasuk dalam gaya bahasa
perbandingan ditemukan dalam novel “Ronggeng
Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Ditemukan sekitar 19 kalimat yang menggunakan gaya bahasa perumpamaan.
Perbandingan dalam novel “Ronggeng
Dukuh Paruk” sering dijelaskan secara eksplisit dengan penggunaan kata seperti, sedangkan kata ibarat
hanya digunakan sebanyak 1 kali, dan tidak ditemukan penggunaan kata bak, umpama, dan lakasana..
Perbandingan yang paling banyak dilakukan dalam novel ini adalah
mambandingkan antara manusia dengan binatang. Terdapat sekitar 6 kalimat yang
membandingkan manusia dengan binatang, keenam kalimat tersebut menggambarkan
sifat-sifat manusia yang sama dengan binatang.
Melalui penggunaan gaya
bahasa seperti ini, pembaca dapat memahami kalimat-kalimat yang ada dalam
novel. Misalnya dalam kalimat “Megap-megap, mulutnya terbuka seperti ikan mujair.” Kalimat ini
menggunakan gaya bahasa perbandingan, yaitu perumpamaan, dibuktikan dengan
penggunaan kata seperti yang
secara eksplisit dipakai untuk membandingkan dua kata yaitu ‘mulutnya’ dan ‘ikan mujair’. Maksud dari
kalimat ini adalah menyamakan ‘mulutnya’ (-nya yang dimaksud disini adalah kata
ganti orang yaitu Srintil) dengan mulut ikan mujair, karena seringkali mulut
ikan mujair terlihat megap-megap, sama seperti ‘mulutnya’ (mulut Srintil).
Meskipun kita tidak melihat secara langsung keadaan tokoh pada waktu itu, namun
dengan perumpamaannya yang disamakan dengan ikan mujair pembaca menjadi paham
dan dapat membayangkan keadaan tokoh.
Gaya bahasa perumpamaan
tidak selalu diterapkan pada manusia, tetapi juga dapat diterapkan untuk
menggambarkan sebuah keadaan, misalnya dalam novel ini terdapat dalam kalimat “Dukuh
Paruk merambat perlahan seperti akar
ilalang menyusuri cadas.” Dalam kalimat ini yang dimaksud adalah kehidupan di
Dukuh Paruk yang secara perlahan mulai bangkit. Hal tersebut
diumpamakan/disamakan dengan akar ilalang yang tumbuh menyusuri cadas. Dua hal
yang diperbandingkan dalam kalimat itu adalah ‘Dukuh Paruk’ (dalam hal ini yang
dimaksud adalah kehidupannya) dengan ‘akar ilalang menyusuri cadas’. Kita
mengetahui bahwa akar ilalang yang menyusuri cadas akan terus bergerak, disini
disamakan dengan kehidupan Dukuh Paruk, yang dapat kiita bayangkan
tumbuh/berkembang sama seperti akar ilalang tersebut. Dengan perumpamaan
seperti ini, meskipun kita (pembaca) tidak melihat/merasakan sendiri keadaan
yang ada di Dukuh Paruk, pembaca dapat mengerti/memiliki pikiran/konotasi yang
sama seperti yang digambarkan penulis, yaitu kehidupan yang tumbuh dan
disamakan dengan tumbuhnya akar ilalang pada cadas.
Novel ini juga
membandingkan dua benda mati, yaitu batu dengan gergaji, seperti yang terlihat
dalam kalimat “Namun setiap kali diurungkannya; batu-batu di atas jalan
pegunungan itu bergerak seperti mata
gergaji besar yang akan menggorok apa saja yang jatuh ke permukaannya.” Kalimat
ini membandingkan ‘batu-batu di atas jalan’ dengan ‘mata gergaji besar’.
Perbandingan itu ditandai dengan adanya kata seperti yang menjadi pembanding dalam dua hal tersebut. Kita
dapat membayangkan bebatuan di atas jalan pegunungan yang tidak rata serta
banyak batu yang tertanam, kemudian kita juga dapat membayangkan mata gergaji
yang ada pada gergaji. Kedua hal tersebut sangat mirip, karena sama-sama memiliki permukaan
yang tidak rata. Jadi disini kita dapat membayangkan bagaimana keadaan jalan
itu, yang memiliki permukaan seperti mata gergaji yang besar. Penggunaan
gaya bahasa perumpamaan disini membantu pembaca untuk dapat memahami keadaan
yang sesungguhnya di khayalkan oleh penulis. Pembaca akan mempunyai konotasi
antara batu dengan gergaji.
Penggunaan gaya bahasa
sangat bermanfaat untuk menimbulkan konotasi pada pembaca sehingga pembaca
dapat membayangkan keadaan/situasi seperti yang dikehendaki pengarang. Dengan
demikian penggunaan gaya bahasa perumpamaan yang diterapkan dalam novel
“Ronggeng Dukuh Paruk” ini dapat menimbulkan nilai rasa tersendiri bagi
pembaca.
Daftar Rujukan
Tohari, Ahmad. 2011. Ronggeg Dukuh Paruk. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa