Evaluasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
Langkah-langkah
Penyusunan
Soal
dan
JawabanTes
Objektif,
Tes Esai dan Tes Kinerja
Oleh:
Sofylia Melati 111224066
Risti Anggraeni 111224067
Wahyu Chrisna Rinadi 111224073
Wahyu Nurasih 111224078
Pendidikan
Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Sanata Dharma
2013
Bab I
Pendahuluan
Pendidikan
adalah sarana utama untuk mencerdaskan anak bangsa. Pendidikan merupakan suatu
kegiatan yang bertujuan meningkatkan
taraf hidup bangsa karena pendidikan memberikan bekal pengetahuan bagi generasi
muda untuk menghadapi persingan globalisasi dunia kerja. Mengingat begitu
pentingnya pendidikan, makaperlu diadakan evaluasi serta perbaikan dalam proses
pembelajaran tidak terkecuali dalam penyusunan tes yang digunakan untuk
mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap pemahaman suatu materi tertentu.
Dalam
penyusunan tes tersebut guru harus memperhatikan beberapa aturan atau
kaidah-kaidah agar tes tersebut tepat sasaran sesuai dengan tujuan
pembelajaran. Selain itu, dalam penyusunan kunci jawaban juga tidak boleh
dilakukan secarasmbarangan dan harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
langkah-langkah penyusunan tes objektif?
2.
Bagaimana
langkah atau cara menyusun kunci jawaban tes objektif?
3.
Bagaimana
langkah-langkah penyusunan tes esai dan kinerja?
4.
Bagaimana
penyusunan pedoman penilaian tes esai dan tes kinerja?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Untuk
mengetahui langkah-langkah penyusunan tes objektif.
2.
Untuk
mengetahui langkah atau cara menyusun kunci jawaban tes objektif.
3.
Untuk
mengetahui langkah-langkah penyusunan tes esai dan kinerja
4.
Untuk
mengetahui penyusunan pedoman penilaian tes esai dan tes kinerja.
Bab II
Pembahasan
I.
Memahami Proses Penyusunan Tes
Objektif Pembelajaran Bahasa Indonesia
A. Tes
Objektif (Objective Test)
Tes
objektif adalah tes yang penskorannya dapat dilakukan dengan tingkat
objektivitas yang tinggi. Skor yang dihasilkan pada akhir penskoran terhadap
pekerjaan seorang peserta tes objektifpada dasarnya tidak berbeda dan akan sama
seandainya penskoran dilakukan oleh dua orang atau lebih korektor, atau oleh
seorang korektor yang sama yang melakukan penskoran dua kali atau lebih pada
waktu berlainan. Hasil penskoran sama dan tidak berbeda itu bahkan dapat
dilakukan tanpa menggunakan tenaga dan pikiran manusia melainkan cukup dengan
mesin scanner, tentu saja dengan
meggunakan lembar jawaban yang disediakan dan dirancang secara khusus untuk
maksud itu. Atas dasar hasil penskoran yang tetap sama (objektif) itu tes jenis
ini dikenal sebagai tes objektif. Penskoran objektif semacam itu dimungkinkan
karena tersedia dan digunakannya kunci jawaban berisi daftar jawaban benar
sebagai pegangan penskoran. Dalam bentuknya yang amat sederhana kunci jawaban
itu sekedar memuat nomor butir soal berikut pilihan yang benar. Tes objektif
dapat dituangkan dalam bentuk a) tes menjodohkan, b) tes benar salah,dan c) tes
pilihan ganda.
1. Tes
Menjodohkan (Matching Test)
Tes menjodohkan memberi tugas
kepada peserta tes untuk menjodohkan atau mencocokan (matching) dua bagian tes
yang, dari segi isi atau arti, merupakan dua bagian yang secara nalar saling
berkaitan. Tes menjodohkan tersusun dalam bentuk dua deretan butir tes. Deretan
pertama terdiri dari pertanyaan, pernyataan, atau bagian awal dari suatu
pernyataan, atau sekedar kata-kata lepas. Masing-masing pertanyaan atau bagian
pernyataan itu diberi nomor, misalnya, (1) sampai (10). Deretan kedua, yang
biasanya terletak disebelah kanan deretan pertama, terdiri dari jawaban atas
pertanyaan, atau bagian akhir suatu pernyataan. Masing-masing bagian dari
deretan kedua itu diberi tanda yang berbeda dengan yang digunakan pada deretan
pertama, misalnya dengan huruf (a) sampai dengan huruf (j). Tentu saja urutan
bagian pertama dan urutan bagian kedua itu disusun sedemikian rupa sehingga
tidak merupakan jawaban atau kelanjuatan, atau bukan dimaksudkan agar peserta
tes berpikir sebelum dapat menetapkan satu butir di deretan kiri, misalnya
nomor urut (2), cocok (match) dengan satu butir tertentu dideretan kanan, misal
nomor urut (d). Dalam hal ini jawaban yang harus dituliskan secara singkat
adalah 2-d. Contoh tes kosa kata bentuk tes mencocokan adalah sebagai berikut:
Ø
Kelas
XI
·
SK
7 Memahami wacana sastra melalui kegiatan membaca buku kumpulan cerita pendek
(cerpen).
·
KD
7.1 Menemukan tema, latar, penokohan pada cerpen-cerpen dalam satu buku
kumpulan cerpen.
NO
|
SOAL
|
JAWAB
|
1
|
Salah satu jenis prosafiksi
yang menceritakan tentang suatu alur cerita yang memiliki tokoh cerita dan
situasi cerita terbatas.
|
a. Dongeng
|
2
|
Tokoh berwatak baik, biasanya
menjadi tokoh utama.
|
b. Cerpen
|
3
|
Tokoh berwatak jahat.
|
c. Tritagonis
|
4
|
Tokoh pelerai/pendamai.
|
d. Antagonis
|
5
|
Lukisan tempat, hubungan, waktu, lingkungan social, tempat terjadinya
peristiwa.
|
e. Konflik
|
6
|
Rangkaian peristiwa yang membentuk cerita.
|
f. Protagonis
|
g. Alur
|
||
h. Latar
|
||
i.
Tempat
|
||
*Jawaban
: 1-b, 2-f, 3-d, 4-c, 5- h, 6-g
Kadang-kadang
urutan deretan ke-2 berisi satu atau dua pilihan lebih banyak daripada deretan
ke-1. Hal ini dilakukan untuk membuat peserta tes berpikir lebih bersungguh-sungguh
terutama apabila tinggan tersisa satu butir tes yang belum terjawab. Dengan
jumlah butir yang tepat sama pada kedua deretan, peserta tes tidak lagi
berpikir ktika di masing-masing deretan butir tinggal tersisa satu. Butir-butir
terakhir itu tinggal dicocokan saja terutama apabila jawaban terhadap
butir-butir lain sudah dianggap tepat. Selain tes kosa kata tes mencocokan ini
dalam tes bahasa ini dapat pula diterapkan pada tes kemampuan atau unsur bahasa
lain termasuk berbagai aspek membaca pemahaman dan tata bahasa (Djiwandono, M Soenardi. 2008. Tes Bahasa : Pegangan bagi
pengajar bahasa)
Ø
Beberapa
petunjuk dalam menyusun item tes bentuk menjodohkan
a.
Petunjuk
hendaknya jelas, singkat dan tegas.
b.
Hendaknya
kumpulan soal diletakkan di sebelah kiri, sedangkan jawaban di sebelah kanan.
c.
Jumlah
alternatif jawaban hendaknya lebih banyak daripada jumlah soal.
d.
Sususnan
item-item dan alternatif jawaban dengan sistematika tertentu.
e.
Hendaknya
seluruh kelompok soal dan jawaban hanya terdapat pada satu halaman.
f.
Gunakan
kalimat yang singkat dan langsung terarah pada pokok persoalan.
(dalam Zainal Arifin)
2. Tes
Benar-Salah (True-False Test)
Tes
benar-salah terdiri dari sejumlah butir tes, masing-masing berupa pernyataan.
Beberapa diantara pernyataan itu benar dalam arti sesuai dengan yang
seharusnya, beberapa yang lain berupa pernyataan yang salah , yaitu tidak
sesuai atau bertentangan dengan yang seharusnya. Tugas peserta tes adalah untuk
membaca, memerhatikan, dan menilai kebenarannya seesuai dengan penguasaan
terhadap isi bidang kajian yang menjadi sasaran tes.
Apabila
peserta tes menganggap bahwa suatu pernyataan itu salah, maka anggapannya itu
dinyatakan dengan cara tetentu, misalnya menuliskan huruf S (salah) pada tempat
tertentu yang disediakan, melingkari huruf S yang disediakan, dan lain-lain. Sebaliknya
apabila suatu pernyataan dianggapnya benar, maka dituliskannya huruf B (benar)
Ø
Beberapa
petunjuk praktis dalam menyusun item bentuk B-S
a.
Jumlah
item yang benar dan yang salah hendaknya sama.
b.
Berilah
petunjuk cara mengerjakan soal yang jelas dan memakai kalimat yang sederhana.
c.
Hindarkan
pernyataan yang terlalu umum dan kompleks.
d.
Hindarkan
penggunaan kata yang dapat memberi petunjuk tentang jawaban yang dikehendaki,
misalnya: biasanya, umumnya, selalu.
Contoh soal Benar Salah:
Ø
Kelas XI SMA
·
SK 3 Memahami
ragam wacana tulis dengan membaca intensif dan membaca memindai.
KD 3.1 Membedakan antara fakta dan opini
dalam teks iklan di surat kabar melalui kegiatan membaca intensif.
·
SK 4 Mengungkapkan informasi dalam
bentuk iklan baris, resensi, dan karangan.
KD
4.1 Menulis
iklan baris dengan bahasa yang singkat, padat, dan jelas.
KD 4.2 Meresensi buku pengetahuan.
·
SK 7 Memahami
wacana sastra melalui kegiatan membaca buku kumpulan cerita pendek (Cerpen).
KD 7.1 Menemukan tema, latar, penokohan
pada cerpen-cerpen dalam satu buku kumpulan cerpen.
·
SK
13 Memahami wacana sastra melalui kegiatan mendengarkan pembacaan kutipan/
sinopsis novel.
KD 13.1 Menerangkan sifat-sifat tokoh
dari kutipan novel yang dibacakan.
·
SK 14
Mengungkapkan
tanggapan terhadap pementasan drama.
KD 14.1 Membahas pementasan drama yang
ditulis siswa.
NO
|
SOAL
|
B
|
S
|
1
|
Paragraf
deduktifadalahparagrafdengan kalimat utama di awal, kemudian
diikuti oleh kalimat penjelas.
|
B
|
S
|
2
|
Protagonisadalahtokoh yang perwatakanyajahat.
|
B
|
S
|
3
|
Paragrafinduktifadalahparagrafdengan kalimat utama terletak di akhir
paragraf, setelah
kalimat-kalimat penjelas.
|
B
|
S
|
4
|
Proposal
merupakan rencanayang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja.
|
B
|
S
|
5
|
Dilihatdariperanya,
tokohdibedakanmenjadiduabagianyaknitokohutamadantokohsentral.
|
B
|
S
|
6
|
Unsurekstrinsikhikayatmeliputitema, amanat, tokoh,
perwatakan, alur, latar, dansudutpandangcerita yang
menjadibagianlangsungdariisicerita.
|
B
|
S
|
7
|
Aktingatauperagaanadalahpenampilansuatuperan yang
menyebabkanpenontondapattersangkutpadailusi yang dibangunolehaktor.
|
B
|
S
|
Karena
tes benar-salah menyediakan dua pilihan untuk setiap butir tesnya, maka secara
hitungan matematik peluang untuk menjawab benar adalah 1 dari 2, atau 50%. Itu
merupakan presentasi kemungkinan benar benar yang cukup tinggi. Dalam
perhitungan matematis hal itu dapat berarti bahwa seandainya seorang peserta
tes menjawab tes benar-salah itu secara membabi buta dengan sekedar menebak tanpa
berpikir sekalipun, secara teoretis peserta yang bersangkutan dapat memperoleh
nilai setengah dari seluruh butir tes dan itu merupakan tingkat presentasi yang
dapat dirasakan terlalu tinggi dan termasuk salah satu kelemahan dari jenis tes
benar-salah. Oleh sebab itu, pengguna tes itu perlu dilakukan dengan berbagai
upaya untuk memperkcil kelemahan itu.
Upaya
untuk memperkecil kelemahan itu dapat dilakukan dengan beberapa cara. Sebagai
tes pemahaman, baik wacana lisan (menyimak) maupun tulisan (membaca pemahaman)
pernyataan itu perlu dipilih dan dirumuskan sedemikian rupa sehingga
benar-benar merupakan pernyataan yang kebenarannya hanya dapat dipastikan
berdasarkan pemahaman peserta tes terhadap wacana yang telah didengarkan atau
dibaca. Tidak semestinya bahwa suatu pernyataan dapt dinilai kebenarannya
semata-mata berdasarkan logika atau pngetahuan umum yang diketahui tanpa harus
memahami wacana yang telah dibaca atau diperdengarkan. Pernyataan yang isi dan
rumusnya tepat sama dengan apa yang secara eksplisit digunakan dalam wacana,
juga bukan merupakan butir tes benar-salah yang baik, karena mudah dikenali.
Jawaban terhadap butir tes semacam itu seolah-olah tersedia di wacana yang ada
sehinggan untuk menjawabnya peserta tes tidak perlu berpikir. Demikian pula
halnya dengan penyusunan buti-butir tes. Butir-butir tes sebaiknya tidak
disusun sedemikian rupa sehingga menampakkan pola yang ajeg sehingga pilihan
jawaban yang benar tidak didasarkan atas pemahaman atas isinya, melainkan
sekedar melihat pola peletakan butir-butir tesnya. Pola semacam itu, misalnya
berupa meletakkan semua pernyataan benar pada seluruh setengah pertama tes
dengan seluruh setengah tes lainnya berupa pernyataan salah. Atau pernyataan
benar dan salah itu diletakkan secara berselang-seling secara ajeg sehingga
urutannya menjadi salah-benar-salah-benar dan seterusnya. Semua itu merupakan
cara menyusun butir tes benar-salah yang perlu dihindari agar pilihan terhadap
jawaban benar-benar didasarkan atas pemahaman, dan bukan sekedar dengan tebak-tebakan
tanpa didasarkan atas pemahaman.
Memang
dalam tes benar-salah cara menjawab tidak semata-mata atas dasar tebakan
semacam itu tidak dapat dihindarkan. Yang dapat dilakukan adalah memperkecil
peluang untuk menjawab hanya sekedar dengan cara menebak, terutama dengan cara
memperbanyak pilihan tidak hanya dua melainkan tiga, empat atau lebih. Bila hal
itu dilakukan, pada hakikatnya tes benar-salah diubah menjadi tes piihan ganda.
·
Saran penyusunan Tes Benar Salah
a)
Pernyataan
jangan terlalu kompleks dengan berisi beberapa konsep sekaligus yang mungkin
kurang berkaitan. Pernyataan yang kompleks bisa saja dipergunakan asal kaitan
antara konsep-konsep yang adda jelas dan mudah diikuti.
b)
Pernyataan
hendaknya tidak memergunakan kata-kata tertentu yang memungkinkan untuk mudah ditebak atau yang dapat menimbulkan
perdebatan. Misalnya, kata-kata seperti semua,
selalu, tidak pernah, tidak mungkin, dan sebagainya. Penggunaan dua tanda
negatif perlu dihindarkan.
c)
Pernyataan
jangan mengutip apa adanya (kutipan secara verbatim) dari buku. Penggunaan
pernyataan yang dikutip secara verbatim akan menimbulkan kecenderungan peserta
didik menghafalkan buku secara verbalistis.
d)
Jumlah
pernyataan yang benar dan salah harus seimbang, separuh benar dan separuh
salah. Hal itu dimaksudkan untuk mengatasi adanya kemungkinan peserta didik
yang hanya menjawab benar atau salah semua secara asal.
e)
Kemungkinan
jawaban B-S-B-S, BB-SS-BB-SS, atau B semua kemudian S semua sebaliknya.
·
Penentuan Skor
Penentuan
skor peserta didik dapat dilakukan dengan dua macam cara, yaitu dengan rumus tanpa tebakan dan rumus dengan tebakan. Penggunaan rumus tebakan
dilakukan jika kita ingin “mendenda”, yaitu berdasarkan asumsi bahwa dari
sekian jumlah jawaban yang benar itu ada yang dijawab secara untung-untungan.
Rumus tanpa tebakan
Rumus : S=R
S: skor, dan R (right):
jumlah jawaban betul. Jadi untuk memeroleh skor peserta didik kita hanya
menghitung jumlah jawaban yang betul.
Rumus tebakan
Rumus: S=R-W
W (Wrong): jumlah jawaban
salah. Jadi kita menghitun jumlah jawaban betul kemudian dikurangi jawaban
salah.
Contoh :
Seorang peserta didik
mengerjakan dengan betul 18 butir soal dari 20 butir yang ada, berarti ada 2
yang salah. Skor anak itu adalah 18-2=16
Penggunaan
rumus tebakan ini bisa menghasilkan skor negatif bagi peserta didik yang jumlah
betulnya kurang dari jumlah separuh soal.
3. Tes
Pilihan Ganda
Tes pilihan ganda merupakan suatu
bentuk tes yang paling banyak dipergunakan dalam dunia pendidikan. Pada
hakikatnya tes pilihan ganda juga memberikan pernyataan benar dan salah pada
setiap alternatif jawaban, hanya yang salah lebih dari sebuah. Jadi, peserta
didik juga terlibat dalam aktivitas menilai pernyataan-pernyataan benar dan
salah. Akan tetapi, karena pernyataan yang salah lebih banyak, kemungkinan
untuk berspekulasi untuk mendapatkan jaaban benar lebih kecil daripada tes
benar-salah.
Ø
Beberapa
petunjuk praktis dalam menyusun item tes pilihan ganda (:
a.
Berilah
petunjuk mengerjakan dengan jelas.
b.
Jangan
masukkan materi yang tidak relevan dengan apa yang sudah dipelajari siswa.
c.
Pertanyaan
pada soal seharusnya merumuskan persoalan yang jelas dan berarti.
d.
Pertanyaan
dan option hendaknya merupakan kesatuan kalimat yang tidak terputus.
e.
Panjang
option pada suatu soal hendaknya lebih pendek daripada stemnya.
f.
Usahakan
agar stem dan option tidak mudah diasosiasikan.
g.
Dalam
penyusunannya, pola kemungkinan jawaban yang betul hendaknya jangan sistematis.
h.
Harus
diyakini benar bahwa hanya ada satu jawaban yang benar.
Tes pilihan ganda terdiri dari
sebuah pernyataan atau kalimat yang belum lengkap yang kemudian diikuti oleh
sejumlah pernyataan atau bentuk yang dapat untuk melengkapinya. Dari sejumlah
“pelengkap” tersebut, hanya sebuah jawaban yang tepat sedang yang lain
merupakan pengecoh atau jawaban salah.
Ø
Contoh
soal kelas XII SMA :
·
SK
4 Mengungkapkan informasi dalam bentuk proposal, surat dagang, karangan ilmiah.
KD
4.1 Menulis proposal untuk berbagai keperluan.
KD
4.3 Melengkapi karya tulis dengan daftar pustaka dan catatan kaki.
·
SK
5 Memahami pementasan drama.
KD
5.1 Mengidentifikasi peristiwa, perilaku, dan perwatakannyya, dialog, dan
konflik pada pementasan drama.
1. Nama lain dari teks drama adalah
. . . .
a. Teks
pementasan
b. Teks skrip
c. Teks
dialog
d.
Teks
sekenario
e. Teks percakapan
2. Karya tulis pelajar sebagai laporan hasil pelaksanaan tugas disebut . . . .
a. Manuskrip
b. Dokumen
c. Disertasi
d. Skripsi
e.
Makalah
3. Catatan pendek
yang berisi
keterangan tambahan atas
bagian
tertentu dari
teks
karangan yang ditempatkan pada bagian bawah halaman disebut . . . .
a.
Catatan
kaki
b. Daftar pustaka
c. Catatan pustaka
d. Keterangan
e. Keterangan tambahan
Pernyataan yang belum lengkap
tersebut tidak harus berada di akhir pernyataan, melainkan bisa juga berada di
tengah. Akan tetapi, disarankan sebaiknya tidak ditempatkan pada posisi awal
pernyataan yang perlu dijawab itu.
Ø Contoh soal kelas XI SMA:
·
SK
5 Memahami pementasan drama.
KD
5.1 Mengidentifikasi peristiwa, perilaku, dan perwatakannyya, dialog, dan
konflik pada pementasan drama.
1. Lengkapi pernyataan berikut dengan memilih salah satu jawaban
yang paling benar:
Dilihat dari perwatakanya,
tokoh dalam darama dibedakan menjadi dua yaitu tokoh…………..yang
perwatakanya
baik, sedangkan tokoh…………..yang
perwatakannya jahat.
a. Antagonis,
Protagonis
b. Utama,
Figuran
c.
Protagonis,
Antagonis
d. Figuran,
Utama
e. Utama,
Protagonis
2. Cermatilah kalimat berikut untuk menjawab soal nomer
2
TNI
mengambil …………. untuk
mempersempit daerah GAM dari radius 9 km menjadi 4 km, hal ini ditujukan untuk menambah
………….. kegiatan
TNI dalam menghadapi GAM,seperti yang dinyatakan oleh Mayjen TNI Djalil Jusuf
diNangroe Aceh Darussalam.
Dalam
……………. penyempitan
daerah GAM tersebut, TNI berhasil menyita sejumlah dokumen dan persenjataan
milik anggota GAM.
Kata-kata
yang tepat untuk mengisi titik-titik diatasadalah . . . .
a. Inisiatif,
evektifitas, operasi
b. Inisiativ,
evektivitas, oprasi
c.
Inisiatif,
efektivitas, operasi
d. Inisiatif,
evektivitas, operasi
e. Inisiatif,
efektivitas, oprasi
Pernyataaan yang diajukan dapat juga
berupa sebuah pernyataan yang lengkap, bahkan mungkin sebuah wacana. Dalam hal
pernyataan seperti ini, alternatif jawaban yang disediakan mungkin berupa
komentar terhadap pernyataan itu, pernyataan lain yang isinya sesuai, inti
masalah pernyataan itu, atau yang lain. Tes pilihan ganda jenis ini sudah
melibatkan aktivitas perpikir tinggi daripada dua contoh yang diatas.
Ø
Contoh
soal kelas XI SMA:
·
SK
13 Memahami wacana sastra melalui kegiatan mendengarkan pembacaan kutipan/
sinopsis novel.
KD 13.1 Menerangkan sifat-sifat tokoh
dari kutipan novel yang dibacakan.
KD
13.2 Menjelaskan alur peristiwa dari
suatu sinopsis novel yang dibacakan.
Bacalah kutipan
novel berikut ini untuk menjawab soal nomor 1
sampai 4
Karena tak mau ambil pusing dan
membuat keributan, wanita itu tetap membiarkannya sambil terus membaca, memakan
kue,dan sekali-kali melihat jam yang tergantung di dinding ruang tunggu. Lagi-lagi,
pria tua itu pun mengambil satu kue dan memakannya.
“Kalau saja aku sedang tak
berbaik hati, sudah kupanggilin polisi bandara yang sedang berjaga itu agar laki-laki tua tak tahu
diri ini ditahan,” gumam wanita itu kesal dan sedikit marah.
Setiap satu kue diambil dan
dimakannya, pria tua itu pun mengambil satu kue dan memakannya hingga tibalah
saat ketikan tinggal satu kue tersisa dalam kantung.
Wanita itu membiarkannya karena
penasaran dan mencoba ingin tahu apa yang akan dilakukan pria tua itu. Dengan
senyum dan tawa kecil yang agak gugup, pria tua itu pun mengambil kue terakhir
dan memotongnya menjadi dua lalu memberikan satu bagian kepada wanita itu.
“Nggak tahu malu!” kembali ia
mengomel dalam hatinya dengan raut wajah yang kecut dan agak marah.
1. Latar tempat dalam kutipan cerpen di atas adalah . . . .
a. Bandara
b.
Ruang tunggu
c. Kantin
d. Toko Jam
e. Dalam Pesawat
2. Perwatakan wanita dalam kutipan cerpen di atas adalah . . . .
a. Baik hati dan sabar
b. Pemarah dan sabar
c.
Pemarah dan penggerutu
d. Baik hati dan pemarah
e. Suka menolong dan baik hati
3. Perwatakan
pria tua dalam kutipan cerpen di atas
adalah . . . .
a. Percaya diri
b.
Tidak tahu malu
c. Pemarah
d. Suka bercanda
e. a,b, dan d benar
4. Amanat yang bisa kalian ambil dari kutipan cerpen di atas adalah
. . . .
a.
Bersikaplah sopan dengan orang yang
belum kita kenal
b. Bertanyalah sebelum meminta
c. Jangan menjadi orang yang mudah marah
d. Berbaikhatilah kepada sesama
e. Janggan mengambil hak orang lain
5. Bacalah kutipan cerpen “Filosofi Kopi” Dewi Lestari untuk menjawab soal nomer 5.
Hidup mereka indah dalam keinginan bebas.Hari ini ke padang, esok lusa ke gunung, tak ada yang binggung.
Kebimbangan tak pernah hadir karena mereka tahu apa yang dimau. Yakin apa yang diingini. Lari mereka ringan karena tak ada yang menunggangi.
Nilai social yang terkandung dalam kutipan cerpen di atas adalah
. . . .
a. Kebebasan membuat hidup manusia tidak bingung dan yakin
b. Setiap manusia memiliki kebebasan sendiri-sendiri tanpa bias digangu oleh orang lain
c. Kebebasan tidak bias diganggu
d. Hidup adalah kebebasan
e.
Keindahan hidup sejatinya ada pada kebebasan
Tentang banyaknya alternatif jawaban
(opsi) yang harus disediakan, tidak ada ketentuan yang pasti. Namun, yang
sering dilakukan orang adalah bekisar 3, 4, atau 5 buah, dan paling banyak
ditemukan adalah 4 buah. Semakin banyak alternatif jawaban yang disediakan,
semakin sulit suatu butir soal dan semakin kecil kemungkinan tepatnya jawaban
peserta didik yang hanya berspekulasi. Akan tetapi, perlu dipertimbangkan bahwa
membuat lima alternatif jawaban dengan baik juga tidak muah dilakukan.
·
Saran Penyusunan Tes Pilihan
Ganda
a)
Pernyataan
pokok (stem) hendaknya hanya berisi satu permasalahan. Permasalahan mungkin
kompleks, tetapi penyajiannya harus jelas dan tidak membngungkan.
b)
Tiap
satu butir soal hanya ada satu alternatif jawaban yang paling tepat. Alternatif
jawaban yang lain yang berlaku seebagai pengecoh harus menunjukkan unsur
tertentu yang memang salah. Selain itu harus dihindari adanya butir pengecoh
yang mempunyai benar sehingga “menyaingi” atau masih dapat diperdebatkan dengan
jawaban yang benar.Contoh :
c)
Semua
alternatif jawaban yang disediakan harus mempunyai hubungan gramatikal yang
benar atau sesuai dengan pernyataan. Alternatif yang tidak dapat dirangkaikan
dengan pernyataan akan mudah ditebak sebagai jawaban yang salah . Dalam kaitan
ini, penyusunan alat tes harus sabar sekali lagi meneliti kesesuaian semua opsi
tersebut dengan stem.
d)
Panjang
tiap opsi hendaknya kurang lebih
sama. Adanya opsi yang jauh lebih
panjangatau pendek daripada opsi-opsi yang lain akan mudah ditebak sebagai
jawaban yang benar atau salah. Selain itu, ia juga kan mengurangi kadar face validity soal tes yang
bersangkutan.
e)
Kita
harus menghindari pemberitahuan jawaban yang benar secara tidak langsung yang
mungkin terlihat pada butir-butir soal berikutnya, oleh karena itu, antara soal
yang satu dengan yang lain hendaknya tidak ada saling kaitan.
f) Jumlah jawaban benar untuk
masing-masing opsi hendaknya kurang lebih sama dan hindari adanya jawaban benar
yang berpola tertentu. Jika jumlah butir soal ada 60 buah, jawaban yang benar
untuk opsi A, B, C dan D masing-masing 5 buah, dan jangan, misalnya, aa, bb,
cc, dd, atau yang lain yang membentuk pola tertentu.
4. Tes
Isian
Tes isian, melengkapi, atau
menyempurnakan merupakan satu bentuk tes objektif yang terdri dari
pernyataan-pernyataan yang sengaja dihilangkan sebagian unsurnya, atau yang
sengaja dibuat secara tidak lengkap.
Saran penyusunan tes isian:
1. Tiap satu pernyataan yang berisi
tempat kosong yang harus dijawab siswa harus hanya berisi satu kemungkinan
jawaban yang benar.
2. Kutipan dari buku yang bersifat
verbatim hendaknya dihindari karena hal itu akan menimbulkan sikap menghafal
siswa tanpa disertai pengertian.
3. Pemberian tempat kosong atau
titk-titik hendaknya sama panjjang agar tidak menimbulkan penafsiran tertentu
pada pihak siswa
4. Tempat kosong sebaiknya tidak
ditempatkan pada awal kalimat karena hal itu kurang mendorong lancarnya
pemikiran siswa.
A.
Soal
Isian
Contoh soalisian:
1. Keadaan,
kejadian, atau
peristiwa yang benar dan bias dibuktikan adalah……………
2. Menarik kesimpulan dengan mengunakan cara/pola membandingkan dua hal yang
memiliki dua sifat sama disebut pola………………….
3. Proses
penalaran yang bertolak
dari
sejumlah fakta
atau
gejalak
khusus yang diamatilalu ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala
yang diamati
disebut pola……………………..
4. Catatan singkat mengenai jalanya persidangan
(rapat) atau
pun
diskusi serta
hal-hal yang dibicarakan dan diputuskan disebut…………….
5. Ciri paragraph yang kalimat utamanya berada
di awal paragraph adalah paragraf……………..
Jawaban
1. Fakta
2. Analogi
3. Generalisasi
4. Notulen
5. Deduktif
II.
Memahami Proses Penyusunan Tes Esai dan
Kinerja
A. Tes Esai
Secara
umum tes esai banyak digunakan untuk merujuk pada tes subjektif pada umumnya,
yang seperti diungkapkan sebelumnya, penskoran hanya dapat dilakukan secara
subjektif. Secara lebih khusus, tes esai mengacu pada tes yang jawabannya
berupa suatu esei atau uraian dalam berbagai gaya penulisan, seperti deskriptif
dan argumentative, sesuai dengan permasalahan yang menjadi pokok bahasan.
Panjang pendek jawaban yang dituangkan dalam bentuk esei tergantung pada
rambu-rambu cara pengerjaan yang ada pada umumnya dituangkan dalam bentuk
petunjuk pengerjaan tes. Demikian juga tentang hal-hal lain yang perlu
diperhatikan oleh peserta tes, yang dapat meliputi susunan dan organisai isi
jawaban, lama waktu yang tersedia untuk menjawab, dan bahkan kadang-kadang skor
yang disediakan untuk jawaban yang diharapkan. Meskipun telah diberikan
berbagai petunjuk cara mengerjakan tes dan menjawab butir-butir tesnya, jawaban
peserta tes biasanya masih beragam sesuai dengan tingkat pemahaman dan
kemampuan masing-masing peserta tes untuk mengungkapkannya. Oleh karena itu
penilaian terhadap tes esei sebagai tes subjektif senantiasa diwarnai dengan
subjektivitasi korektor yang mungkin dapat dikurangi meskipun tidak dapat
sepenuhnya ditiadakan. (Djiwandono,M
Soenardi. 2008. Tes Bahasa: Pegangan bagi pengajar bahasa)
1. Penggunaan tes
esai
·
Jumlah siswa yang akan di tes relative kecil,
dan alat tes itu sendiri tak akan dipergunakan lagi.
·
Kita bermaksud memberanikan siswa untuk
mengemukakan kemampuan berpikirnya dalam tingkatan kognitif yang tinggi dalam
bentuk ekspresi tulis.
·
Kita bermaksud untuk menilai proses berpikir
siswa daripada hasil pemikirannya itu sendiri. Jadi, yang diutamakan adalah
penalaran, kejelaasan, dan keruntutan cara berpikirnya.
·
Kita yakin pada kemampuan sendiri untuk
bertindak sebagai pembaca yang kritis, bukan sebagai penulis yang membayangkan
jawaban seperti dalam menyusun tes objektif.
·
Kita tahu pasti bahwa kita mempunyai waktu yang
cukup untuk memeriksa pekerjaan siswa.
Dari semua jenis tes subjektif, tes esai merupakan jenis tes subjektif
yang jawabannya paling panjang dan paling beragam isi dan kemasannya. Tidaklah
mengherankan bahwa pelaksanaan penskoran terhadap jawaban peserta tes esai ini
pun pada umumnya diwarnai dengan tingkat subjektivitas yang paling tinggi.
Penskoran tes subjektif dalam bentuk esai tidak dilakukan dengan menggunakan
bentuk kunci jawaban seperti yang digunakan pada penskoran tes objektif,
melainkan atasa rambu-rambu penskoran. (scoring guide). Rambu-rambu penskoran
ini tidak memuat bentuk dan wujud jawaban yang pasti untuk masing-masing butir
tes seperti halnya kunci jawaban pada tes objektif.
Rambu-rambu penskoran tes subjektif sekedar memuat pedoman, kadang-kadang
sekedar criteria, yang menyebutkan jawaban yang diharapkan dalam hal relevansi
isi, susunan, bahasa, yang digunakan termasuk ejaan, bahkan panjang dan
pendeknya jawaban, dan lain-lain. Kadang-kadang disertakan pula proporsi skor
yang disediakan bagi masing-masing unsur berdasarkan tingkat pentingnya suatu
unsure yang diskor. Penilaian esai dengan berdasarkan rincian unsure jawaban
semacam itu dikenal sebagai penilaian analitik .
Kriteria Penskoran Tes Esai Secara Analitik
Penskoran jawaban peserta tes terhadap
masing-masing butir tes berdasarkan sejumlah criteria, yaitu aspek-aspek yang
dianggap penting.
1. Relevansi, isi jawaban peserta tes
dengan jawaban yang diharapkan.
2. Kecukupan, isi jawaban peserta tes
tentang masalah ditanyakan.
3. Kerampian, dan kejelasan penyusunan
isi jawaban peserta tes.
4. Lain-lain, yang perlu dan relevan
dengan bidang kajian titik berat sasaran tes ( dengan uraian dan rinciannya) ,
misalnya penggunaan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti.
|
Rincian Kriteria dengan Tingkatan Ketercapaian Kriteria dan Alokasi pada
tes Esei
NO.
|
KRITERIA
|
RINCIAN TINGKAT KETERCAPAIAN KRITERIA
|
SKOR
|
1.
|
RELEVANSI ISI
|
Isi sepenuhnya sesuai dengan pertanyaan
Isi sebagian besar sesuai dengan pertanyaan
Isi sedikit sesuai dengan pertanyaan
Isi jawaban tidak sesuai dengan pertanyaan
|
4
3
2
1
|
2.
|
KETUNTASAN
|
Jawaban tuntas
Jawaban hampir tuntas
Jawaban kurang-kurang tuntas
Jawaban jauh dari tuntas
|
4
3
2
1
|
3.
|
PENGORGANISASIAN
|
Amat sistematis
Mendekati sistematis
Sedikit sistematis
Tidak sistematis
|
4
3
2
1
|
Jika penskoran itu dilakukan tanpa pembobotan dalam arti bahwa semua
kriteria dianggap sama berat dan dialokasikan rentangan skor yang sama, maka
skor jawaban esei seorang peserta tes diperoleh dengan menjumlahkan skor-skor
yang diperolehnya. Jika penskoran dilakukan dengan pembobotan, maka bobot
masing-masing kriteria perlu ditentukan berdasarkan pentingnya berbagai komponen
kemampuan dalam melakukan pekerjaan yang ditugaskan.
B. Langkah-langkah dalam menyusun tes esei
1)
Materi yang akan diujikan hendaknya materi yang
kurang cocok diukur dengan menggunakan tes objektif, misalnya:
-
Kemampuan anak didik untuk menyusun pendapatnya
mengenai suatu problem.
-
Hasil pekerjaan anak didik setelah mengadakan
kegiatan seperti peninjauan, kerja nyata, dan sebagainya.
-
Kemampuan anak didik dalam hal mengarang.
-
Kecakapan anak didik dalam memecahkan problem.
2)
Setiap pertanyaan hendaknya menggunakan petunjuk
dan rumusan yang jelas dan mudah dipahami sehingga tidak menimbulkan
kebimbangan kepada anak didik. Misalnya:
-
Apa perbedaan antara mutu pendidikan dan
pendidikan mutu?
-
Bandingkan rumusan TIU dan rumusan TIK. Berikan
masing-masing contoh!
-
Bagaimana sistem pendidikan nasional sejak tahun
1969 sampai dengan 1985? Coba jelaskan denga singkat.
3) Jangan memberikan kesempatan kepada anak
didik untuk memilihh beberapa item dari sejumlah
item yang diberikan, sebab cara demikian tidak memungkinkan untuk memperoleh skor yang dapat di bandingkan.
4) Persoalan dalam item tes esei hendaknya
terarah pada hal-hal seperti : menelaah persoalan, melukiskan persoalan,
menjelaskan persoalan, melukiskan persoalan, menjelaskan persoalan,
membandingkan dua hal atau lebih, mengemukakan kritik terhadap sesuatu,
menyelesaikan suatu persoalan seperti menghitung, membuat contoh mengenai suatu
pengertian, memecahkan suatu persoalan dengan jalan mengaplikasikan
prinsip-prinsip yang telah dikuasainya, dan menyusun suatu konsepsi.
C.
Contoh soal esai
Ø SK
1 Memahami dialog interaktif
pada
tayangan
televisi/ siaran radio
Ø KD
1.1 Menyimpulkan
isi dialog interaktif beberapa narasumber pada tayangan televisi/
siaran radio
Ø Wacana
Agus: Belajar dengan sungguh-sungguh dangiat,
berdoa agar bias
menjadi yang lebih baik.
Risky: Melatih mengerjakan soal pelajaran,
mencoba mengerjakan soal
yang sangat
sulit. Jika menjumpai kesulitan bertanya pada guru.
Amin: Ingin lulus
dengan
nilai yang baik dan memuaskan.
Mengerjakan
soal-soal dengan
sungguh-sungguh dan benar,
mengerjakan
soal
sendiri dan
tidak
mencontek.
Ari: Bisa meraih prestasi
di sekolah
dengan
nilai yang sempurna.
Susi: Mengantuk saat belajar merupakan hambatan saya dalam belajar.
Ketika mengantuk membuat belajar tidak konsentrasi.
Bayu: Selalu sujud
syukur
atas
nilai
baik yang tercapai.
Ø Soal:
1. Tuliskan tema
dialog interaktif
tersebut!
2. Simpulkan isi
dialog interaktif
tersebut dan
disertai alasan yang logis!
Ø Jawaban:
1. Kesadaran kita saat memasuki kelas
IX dan cara belajar
yang efektif.
2. Dari
wacana di atas
dapatd
isimpulkan bahwa
dengan
cara
belajar yang efektif kita bias memperoleh hasil
yang memuaskan
D. Cara mengoreksi tes esei
Ada tiga cara untuk mengoreksi item-item
bentuk tes esei ini, yaitu:
-
Whole method, yaitu metode per nomor. Disini
kita akan mengoreksi pekerjaan murid setiap nomor. Misalnya kita mengoreksi
nomor satu untuk seluruh siswa., kemudian nom dua untuk seluruh siswa, dan
seterusnya. Kebaikan nya adalah pemberian skor yang berbeda atas dua jawaban
yang kualitasnya sama hampir tidak akan terjadi karena jawaban testi yang satu
itu selalu dibandingkan dengan jawaban testi yang lain. Sedangkan kelemahannya
adalah pelaksanaanya terlalu berat dan memakan waktu.
-
Separated method, yaitu metode per lembar.
Disini kita mengoreksi setiap lembar jawaban murid sampai selesai. Kebaikannya
adalah relative mudah dan tidak memakan waktu banyak. Sedangkan, kelemahannya
adalah kita sering member skor yang berbeda atas dua jawaban yang sama
kualitasnya atau sebaliknya.
-
Cross method, yaitu metode bersilang. Kita
mengoreksi jawaban siswa dengan jalan menukarkan hasil koreksi dari seorang
korektor kepada korektor lain. Dengan kata lain, jika telah selesai dikoreksi
oleh seorang korektor , lalu dikoreksi kembali oleh korektor yang lain.
Kelebihannya adalah faktor subjektif dapat dikurangi. Sedangkan kelemahannya
adalah membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak.
Dalam pelaksanaan pengoreksian
kita boleh memilih salah satu di antara ketiga metode tersebut, atau mungkin
kita menggunakannya secara bervariasi. Hal ini harus disesuaikan dengan
kebutuhan. Misalnya kita menghendaki hasil jawaban yang betul-betul objektif,
maka lebih tepat bila kita menggunakan metode silang ( cross method).
Sebaliknya, bila ada waktu luang, maka ada baiknya kita menggunakan metode per
nomor ( whole method) atau metode per lembar ( separated method).
E.
Tes Perbuatan/Tes Kinerja
Tes perbuatan atau tes kinerja
adalah tes yang menuntut jawaban peserta didik dalam bentuk perilaku, tindakan,
atau perbuatan. Stigins mengemukakan “tes kinerja adalah suatu bentuk tes yang
peserta didiknya diminta untuk melakukan kegiatan khusus di bawah pengamatan
penguji yang akan mengobservasi penampilannya dan membuat keputusan tentang
kualitas hasil belajar yang didemonstrasikan (Zainal
Arifin, Evaluasi Pebelajaran, 2009)
Peserta
didik bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan dan ditayakan.
Tes tindakan sebagai suatu teknik
evaluasi banyak digunakan hampir setiap mata pelajaran, seperti olahraga,
teknologi informasi dan komunikasi, bahasa, kesenian, dan sebagainya. Tes
tindakan dapat dilakukan secara kelompok dan individual. Secara kelompok
berarti seorang guru menghadapi sekelompok peserta didik, sedamgkan secara individual
berarti seorang guru menghadapi seorang peserta didik.
Tes tindakan dapat digunakan untuk
menilai kualitas suatu pekerjaan yang telah selesai dikerjakan oleh peserta
didik, termasuk juga keterampilan dan ketepatan menyelesaikan suatu pekerjaan,
kecepatan, dan kemampuan merencanakan suatu pekerjaan, dan mengidentifikasi
suatu peranti. Tes tindakan dapat difokuskan pada proes, produk, atau keduanya
·
Langkah-langkah Penyusunan Tes
Tindakan
a) Jabarkanlah kegiatan yang akan
dipraktekkan kedalam unsur-unsurnya.
b) Susunlah unsur-unsur perilaku
yang akan diukur dalam pedoman pengamatan secara logis.
c) Buatlah petunjuk pengerjaan yang
tepat.
d) Identifikasi alat-alat
perlengkapan yang diperlukan.
e) Pertimbangan kemungkinan
pelaksanaan.
·
Penentuan Skor
Penyekoran
tes tindakan didasarkan pada sejauh mana keterampilan dan ketepatan testi
meragakan kegiatan sesuai dengan petunjuk. Disini para penguji harus memiliki
gambaran operasional tentang penampilan yang diharapkan. Dengan kata lain, para
peguji harus mengetahui pola penampilan yang seharusnya. Hal-hal yang dapat
kita jadikan acuan dalam pemberian angka adalah:
-
Kecepatan
penampilan
-
Ketepatan
cara melakukan
-
Ketelitian
-
Keterampilan
menggunakan alat
-
Kesetiaan
terhadap instruksi
Dalam proses
penyekoran gunakan pengamatan (pedoman penyekoran). Skor akhir sama dengan
rata-rata dari jumlah skor setiap pengamat. (Evaluasi Pengajaran, 1999:123)
·
Contoh soal:
Tes Kinerja (kelas IX)
Ø
SK
14 Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan drama
Ø
KD
14.1 Membahas pementasan drama yang ditulis siswa
14.2
Menilai mementasan drama yang dilakukan oleh siswa
Ø
Soal
1.
Bentuklah
kelompok yang beranggotakan 4-5 orang.
2.
Carilah
naskah drama yang singkat dan menarik
3.
Dramatisasi
kan naskah drama kelompok mu tersebut!
4.
Mintalah
tanggapan dari kelompok lain!
5.
Diskusikan
hasil pementasan drama kelompokmu!
RUBRIK
PENILAIAN PEMENTASAN DRAMA
(Penggunaan
gerak-gerik, mimik, lafal, intonasi, nada/tekanan
sesuai dengan watak tokoh)
RPP NOMOR 34
Kompetensi
Dasar : Menggunakan gerak-gerik, mimik, dan intonasi sesuai
dengan
watak tokoh dalam pementasan drama
Nama
Siswa
:
Kelas/No Absen :
Tanggal Penilaian :
KOMPONEN
|
SKOR
|
||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
1.
Lafal/ucapan (terdengar jelas oleh penonton?)
|
|||||
2.
Intonasi (bervariasi sesuai tuntutan naskah?)
|
|||||
3.
Pengaturan nada (pengaturannya tepat sehingga
maksud
kalimat mudah ditangkap penonton?)
|
|||||
4. Intensitas
dan kelancaran berbicara (konsisten?)
|
|||||
5.
Kemunculan pertama (mantap dan memberikan
kesan akan
karakter tokoh/tidak?)
|
|||||
6.
Pemanfaatkan ruang yang ada untuk memosisikan
tubuh
(blocking) saat pementasan (baik/tidak?)
|
|||||
7.
Ekspresi dialog untuk menggambarkan karakter
tokoh
(sesuai karakter tokoh?)
|
|||||
8.
Ekspresi wajah (sesuai dengan karakter tokoh?)
|
|||||
9.
Pandangan mata dan gerak anggota tubuh (sesuai
karakter
tokoh?
|
|||||
10.
Gerakan/tingkah laku (sesuai karakter tokoh?)
|
|||||
SKOR (MAKSIMAL 50)
|
|||||
Bab III
Penutup
A. Simpulan
Tes objektif adalah tes yang
penskorannya dapat dilakukan dengan tingkat objektivitas yang tinggi.Beberapa bentuk
tes objektif tesobjektif adalah a) tes menjodohkan, b) tes benar
salah,dan c) tes pilihan ganda.
Tes esai mengacu
pada tes yang jawabannya berupa suatu esei atau uraian dalam berbagai gaya
penulisan, seperti deskriptif dan argumentative, sesuai dengan permasalahan
yang menjadi pokok bahasan.
Tes perbuatan atau tes kinerja
adalah tes yang menuntut jawaban peserta didik dalam bentuk perilaku, tindakan,
atau perbuatan.Tes tindakandapat difokuskan pada proes, produk, atau keduanya.
Dari segi penyusunan soal maupun jawaban ketiga tes diatas harus mematuhi kaidah atau langkah-langkah serta criteria sehingga tidak bias dilakukan secara sembarangan dan harus berpegang padaStandar Kompetensi
(SK) dan Kompetensi Dasar
(KD).
Daftar Pustaka
Arifin, Zaenal. 1990. Evaluasi Instruksional. Bandung :
Rosdakarya
Arifin, Zaenal. 2009. Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik,
Prosedur. Bandung: Rosdakarya
Djiwandono, M. Soenardi. 2008. Tes Bahasa: Pegangan Bagi Pengajar Bahasa.
Jakarta: Indeks
Dokumen SK KD KTSP 2006
Nurgiyantoro, Burhan. 1995. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.
Yogyakarta: BPFE
Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Pendidikan
Nasional Republik Indonesia. Nomor